WCF 2016, Mendikbud: Spirit Pembangunan Bersumber dari Kebudayaan

Lukman Diah Sari    •    Jumat, 14 Oct 2016 19:41 WIB
wcf 2016
WCF 2016, Mendikbud: Spirit Pembangunan Bersumber dari Kebudayaan
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (Foto:Antara/Wira Suryantala)

Metrotvnews.com, Bali: World Culture Forum (WCF) 2016 resmi ditutup, pada Jumat, 14 Oktober 2016. Mengusung tema Culture for an Inclusive Sustainable Planet, WCF 2016 menyoroti pembangunan yang tak disertai kearifan lokal sehingga pembangun tak lagi seirama dengan kebudayaan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, sesungguhnya pembangunan bersumber dari kebudayaan.

"Spirit dari pembangunan itu sesungguhnya bersumber dari kebudayaan, karena kebudayaan di dalam kesadaran kolektif bangsa," kata Muhadjir, di Bali Nusa Dua convention Center, Bali.

Produk pembangunan kini berasal dari produk budaya yang ada sebelumnya. "Jadi, apa yang ada ini hanya produk, produk budaya. Namanya tarian dan sebagainya, itu produk saja. Tapi sesungguhnya kebudayaan itu di dalam kesadaran," jelasnya.

Muhadjir berharap, melalui WCF 2016, kelak pembangunan bisa didasarkan pada learifan lokal sehingga akan muncul keharmonisan dan jauh dari kehancuran.

Kelak masyarakat dunia pun diharapkan bisa membangun peradaban yang berdasarkan kearifan lokal dan budaya yang kuat. "Sehingga nanti dalam pembangunan masyarakat global didukung oleh kaki yang kokoh yang bersumber dari kearifan lokal semua bangsa," ujar Muhadjir.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyebutkan, hasil yang paling konkret dari WCF 2016 yakni kesimpulan simposium yang digelar selama dua hari, yakni pada Selasa, 11 Oktober, dan Rabu, 12 Oktober.

"Yang paling konkret itu agenda aksi. Setelah simposium selama dua hari dan keynote speach dari ibu Megawati Soekarnoputri, jelas bahwa ada keinginan untuk menjadikan dan menempatkan kebudayaan pada hulu pembangunan," kata Hilmar.

Dengan begitu, bakal ada langkah konkret penciptaan program-program yang kelak arahnya bakal memperkuat kebudayaan sebagai landasan dari pembangunan yang berkelanjutan.

"Dan ini akan diterjemahkan dalam langkah konkret program yang nanti arahnya untuk memperkuat kebudayaan," ucap Hilmar.  

Kesimpulan dari WCF 2016, kata Hilmar, adalah penegasan bahwa sudah lama kebudayaan mendorong pembangunan. "Adalah menegaskan satu pernyataan yang sudah lama ada, bahwa kebudayaan bisa menjadi mendorong pembangunan yang berkelanjutan," ucap Hilmar.


Pertunjukan seni kolaborasi 14 negara (Foto: Worldcultureforum-bali org)


WCF 2016 menghasilkan deklarasi 10 komitmen, yaitu:

1. Mendukung implementasi penuh agenda 2030 dalam pembangunan berkelanjutan dan bekerja menuju integrasi yang lebih tampak dan efektif, serta pengarusutamaan budaya ke dalam kebijakan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan dan strategi di semua tingkatan

2. Mempromosikan budaya perdamaian di masyarakat kita yang akan mendorong keadilan dan inklusif di masyarakat, yang menghargai dan nilai keragaman budaya dan warisan serta perlindungan mereka

3. Mencatat hasil dari enam simposium atau tema dari Culture Forum Dunia, tindakan berikut yang disarankan untuk dilakukan:

- Memperkuat peran budaya dalam paradigma pembangunan berkelanjutan dan menegaskan kembali budaya yang merupakan enabler penting dan kendaraan untuk pelaksanaan agenda pada  2030. Dan menekankan peran masyarakat dan budaya lokal untuk memperbaiki hubungan yang tidak seimbang dari jasa ekosistem dengan tuntutan manusia

- Memperkuat keterkaitan dari pemangku kepentingan untuk menciptakan praktik terbaik semi pembangunan berkelanjutan yang inklusif

- Mengembangkan jalur kolektif untuk memastikan transmisi budaya ke generasi berikutnya demi kelangsungan budaya

- Menerapkan pendekatan perencanaan pembangunan ekonomi dan sosial untuk mengatasi tantangan hidup urban kontemporer

- Hormat dan mengakomodasi pengetahuan tradisional serta kearifan lokal yang mempromosikan hubungan yang harmonis manusia, alam, dan spiritualitas

- Posisi manusia dan alam di pusat formulasi kebijakan publik bottom-up dan implementasi

- Menyediakan akses universal ke dan penggunaan teknologi digital untuk memberdayakan masyarakat sipil dan memungkinkan aktivisme digital

- Memungkinkan dinamika orang-orang di masyarakat perkotaan untuk berkembang, dan kekayaan warisan budaya urban untuk bisa mengembangkan ke arah kemajuan hak untuk kota damai, adil, inklusif dan berkelanjutan

- Memperluas dan memperkuat budaya perdamaian dan pemahaman berdasarkan dialog dan nilai-nilai hak asasi manusia

- Mengadakan dialog untuk membangun jembatan untuk menghubungkan perbedaan budaya dan memperkuat pemahaman bersama antara masyarakat

- Memperkuat promosi nilai-nilai multikulturalisme, hidup berdampingan secara damai, dan hidup bersama

- Menggabungkan nilai-nilai tentang air dengan budaya dan etika serta pengetahuan tradisional menjadi pengelolaan sumber daya air terpadu dari sumber ke semua pengguna untuk menyelesaikan tantangan sosial-politik pengelolaan air di seluruh dunia

4. Memperkuat peran pemuda dalam aktivisme ekonomi, budaya dan sosial-politik dan lingkungan dalam rangka untuk mempromosikan pemahaman bersama dan membawa transformasi positif sosial serta kesetaraan menuju pembangunan berkelanjutan, tapi tidak terbatas pada promosi ekonomi kreatif

5. Mengakui peran antar pemerintah dan non-pemerintah serta organisasi internasional, untuk mengembangkan jaringan pengetahuan tentang kegiatan untuk memberdayakan konstituen dalam memajukan budaya progresif untuk pembangunan berkelanjutan inklusif

6. Mengembangkan strategi yang berinvestasi pada orang dan memberdayakan peran masyarakat setempat. Serta merumuskan rencana aksi untuk menjaga hubungan antara masing-masing peserta World Culture Forum atas proses dialog antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk mengoptimalkan budaya sebagai kekuatan dalam menangani masalah dunia

7. Bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk memastikan semua rencana pembangunan berkelanjutan di bawah agenda 2030 bisa responsif terhadap konteks budaya untuk menghasilkan yang lebih baik, hasil yang berkelanjutan dan adil untuk planet inklusif

8. Mendukung UNESCO dalam upaya untuk memperkuat perlindungan warisan budaya termasuk dari perang dan konflik

9. Memperkuat sarana pelaksanaan dan menekankan kebutuhan untuk peran kebudayaan ke dalam indikator dan mekanisme pelaporan dari SDGs di semua tingkatan.

10. Bekerja untuk mengembangkan "Framework for Action" yang akan disajikan untuk diadopsi dan diluncurkan pada pertemuan yang akan diselenggarakan di samping Sesi 39 tahun Konferensi Umum UNESCO pada Oktober 2017, dengan maksud untuk memperkuat menindaklanjuti dan mekanisme review di bawah Agenda 2030.

Sebanyak 10 komitmen yang dibacakan dalam bentuk deklarasi itu bakal segera direalisasikan dalam serangkaian kegiatan melalui kementerian dan delegasi dunia yang tergabung dalam WCF untuk merumuskan langkah yang lebih konkret pada Januari 2017.


(ROS)