Farmasi UI Teliti Kandungan Seledri untuk Obat Hipertensi

Intan Yunelia    •    Jumat, 11 Jan 2019 14:04 WIB
Riset dan Penelitian
Farmasi UI Teliti Kandungan Seledri untuk Obat Hipertensi
Doktor Fakultas Farmasi UI, Dr. Siska, M.Farm saat mempresentasikan disertasinya, UI/Humas.

Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) melakukan penelitian terhadap kandungan seledri untuk obat penyakit hipertensi (darah tinggi). Hal ini dilakukan karena darah tinggi menjadi penyebab kematian sembilan juta orang setiap tahunnya. 

Doktor Fakultas Farmasi UI, Siska telah melakukan penelitian terkait pemanfaatan seledri yang menunjukkan bahwa kombinasi Kaptopril dan ekstrak Apium Graveolens L atau disebut Seledri mampu menurunkan tekanan darah sebesar 42,3 persen lebih baik dari pemberian Kaptopril tunggal.  Penurunan tekanan darah ini dilakukan dengan cara diuresis dan natriuresis. 

"Hal ini dibuktikan dengan adanya korelasi antara tekanan darah dengan volume urine, di mana terjadi penurunan tekanan darah diikuti dengan peningkatan volume urin," ujar Siska, di Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

Siska dalam sidang terbuka Promosi Doktor Farmasi, memaparkan judul disertasi penelitiannya yaitu 'Studi Interaksi Farmakodinamik dan Farmakokinetik Kombinasi Kaptopril dan Ekstrak Apium Graveolens L. sebagai Antihipertensi pada Tikus Putih Jantan.

Baca: Relawan UI Diterjunkan ke Tiga Daerah Bencana Tsunami

Menurutnya, masyarakat sejauh ini sering menggunakan obat herbal dalam mengatasi penyakit darah tinggi. Mereka beranggapan bahwa obat herbal lebih aman dan mudah untuk digunakan.

"Namun pengobatan obat herbal tidak sepenuhnya mampu menurunkan tekanan darah, sehingga tetap dibutuhkan penggunaaan obat sintetik," terang Siska.

Dengan adanya penemuan ini, Siska berharap dapat memberikan manfaat bagi pengobatan hipertensi. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai data preklinik bagi tenaga medis untuk mendukung penggunaan herbal pada penyakit darah tinggi.

"Namun bagi masyarakat, diimbau untuk tetap berhati-hati terhadap potensi risiko yang mungkin akan timbul, jika menggunakan obat herbal bersamaan dengan obat sintetik tanpa sepengetahuan dokter atau tenaga medis lainnya," pungkasnya.


(CEU)