Tiongkok Tawarkan Konsep Bioskop Kampung ke Indonesia

Wandi Yusuf    •    Kamis, 08 Nov 2018 09:51 WIB
World Conference on Creative Economy (WCCE)
Tiongkok Tawarkan Konsep Bioskop Kampung ke Indonesia
President of China Film Group Corporation Le Ke Xi/Medcom.id/Wandi Yusuf

Nusa Dua: Pemerintah Tiongkok menawarkan konsep bioskop kampung ke Indonesia. Bioskop kampung diharapkan bisa memperlebar penetrasi literasi film ke warga perdesaan yang tak terjangkau jaringan bioskop besar.

"Kami punya teknologinya. Dan ini sudah saya tawarkan ke pemerintah Indonesia. Dengan teknologi ini semoga orang kampung punya kesempatan untuk menonton film. Jadi, tak harus jauh-jauh datang ke bioskop di kota," kata President of China Film Group Corporation, Le Ke Xi, di sela-sela pelaksanaan Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) 2018, di Nusa Dua, Bali, Rabu, 7 November 2018.

Tiongkok sukses menerapkan konsep bioskop kampung. Le Ke mengatakan saat ini 600 juta penduduk perdesaan di Tiongkok sudah bisa menikmati film. Ini terjadi karena pemerintah Tiongkok menyediakan proyektor portabel di setiap kampung.

Baca: Penonton Bioskop Menuju 50 Juta

Selain untuk memutar film, proyektor portabel itu juga bisa digunakan untuk kegiatan lain seperti menayangkan pesta kelulusan hingga pesta perkawinan. Menurutnya, penetrasi proyektor portabel ke perkampungan ini hanya dilakukan dalam kurun lima tahun.

"Dalam lima tahun, seluruh warga perdesaan di Tiongkok sudah bisa menikmati film. Kami sudah mengirim sebanyak 50 ribu unit proyektor portabel dengan cakupan satu unit bisa melayani seribu orang," kata Le Ke.

Ia melihat kondisi Indonesia tak berbeda jauh dengan Tiongkok. Dan konsep bioskop kampung ini diyakini bisa juga diterapkan di Indonesia. "Penduduk Indonesia juga masih banyak yang tinggal di perkampungan. Apalagi bioskop juga belum banyak menjangkau wilayah ini," kata dia.

Baca: Tiongkok Berupaya Melampaui Box Office Amerika

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan pemerintah memang berupaya untuk membangun lebih banyak bioskop di daerah. Tahun ini Indonesia baru memiliki 1.700 layar.

Triawan menargetkan pada dua hingga tiga tahun ke depan sudah terbangun 3.000 layar. Bioskop rencananya akan banyak dibangun di daerah. "Karena kantong-kantong penonton film nasional ada di kota-kota kecil," kata dia.

Ia juga mendorong Komisi Film Daerah untuk mendorong perkembangan perfilman di daerah. Selain itu, ia menekankan agar daerah juga bisa dijadikan lokasi syuting sambil mempromosikan parisiwata.

"Karena hanya kita yang belum punya intensif untuk orang yang syuting di Indonesia," ujarnya. Negara lain seperti Malaysia sudah bisa mendapatkan insentif dari royalti syuting ini.


(OJE)