Aparatur Otak Persekusi di Tangerang

   •    Rabu, 15 Nov 2017 07:42 WIB
kekerasan asusila
Aparatur Otak Persekusi di Tangerang
IlustrasI: Kekerasan. Foto: MTVN/Mohammad Rizal.

Tangerang: Polres Kota Tangerang, Banten, menetapkan enam tersangka persekusi terhadap pasangan muda-mudi R, 28, dan M, 20, di Cikupa, Kabupaten Tangerang. Para pelaku adalah aparatur setempat, yakni T, Ketua RT 07 dan G, Ketua RW 03, Kampung Kadu, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, beserta empat tetangga lainnya, A, S, N, dan I. 

Dalam aksinya, mereka melakukan kekerasan dan penelanjangan, juga mengarak sepasang kekasih yang akan menikah itu. Mereka juga merekam aksi persekusi dengan ponsel sehingga video berdurasi 53 detik yang diunggah di media sosial itu viral di masyarakat.

"Setelah kami melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, ternyata penyulut kasus persekusi ini ialah ketua RT dan ketua RW," kata Kapolres Kota Tangerang AKB Sabilul Alif, Selasa, 15 November 2017.

Ia menjelaskan, peristiwa itu terjadi ketika M meminta dibawakan makanan kepada R yang tidak lain calon suaminya. Beberapa saat R datang dan langsung masuk ke kontrakan. Pintu kontrakan ditutup tapi tidak dikunci karena mereka sedang makan bersama. 

Begitu usai makan, M masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi, sedangkan R masih menunggu di ruang tamu. Saat itu juga datang T, ketua RT setempat, membuka pintu dan berteriak-teriak memanggil warga agar datang ke lokasi.

R dan M pun merasa bingung dan panik karena dituduh melakukan tindak asusila di dalam kontrakan. "Mereka dipaksa untuk mengakui berbuat mesum," kata Sabilul Alif. 

Keduanya berkukuh tak berbuat mesum. Namun, warga sudah tersulut emosi oleh ucapan T untuk menelanjangi dan mengarak keduanya keliling kampung menuju rumah G, ketua RW setempat. 

Baca: Main Hakim Sendiri Indikator Keraguan pada Aparat

Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan G. Namun, yang terjadi bukanlah pembelaan terhadap keduanya, justru pengadilan jalanan yang didapat. R dan M pun mengalami trauma yang cukup berat. 

Dalam kasus tersebut, para pelaku dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang Penganiayaan jo. Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. Mereka terancam hukuman di atas lima tahun penjara.


(OGI)