Kesenjangan Digital di Indonesia Masih Tinggi

Citra Larasati    •    Jumat, 07 Dec 2018 20:29 WIB
beasiswa osc
Kesenjangan Digital di Indonesia Masih Tinggi
Seminar Catatan Akhir Tahun dan Atma Jaya Award "Indonesia 4.0 Teknologi dan Kepedulian Sosial" di Kampus Atma Jaya, Medcom.id/Citra Larasati.

Jakarta:  Kesenjangan digital yang terjadi di Indonesia masih sangat tinggi, meski sudah memasuki era revolusi industri 4.0.  Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengoptimalkan teknologi digital dan infrastruktur.

Berdasarkan data Temasek dan Google memprediksi, pertumbuhan ekonomi internet di Indonesia pada 2018 mencapai USD27 miliar dan diprediksi akan terus tumbuh mencapai USD 100 miliar pada 2025. "Prediksi ini menjadi peluang yang baik jika tantangan Indonesia dalam menghadapi industri 4.0 dapat diatasi," kata Rektor Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, dalam Seminar Catatan Akhir Tahun dan Atma Jaya Award "Indonesia 4.0 Teknologi dan Kepedulian Sosial" di Kampus Atma Jaya, di Jakarta, Jumat, 7 Desember 2018

Tantangan terbesar Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0 adalah kesenjangan digital yang masih tinggi, akibat minimnya pengetahuan sumber daya manusia dalam mengoptimalkan teknologi digital dan infrastruktur. "Kesenjangan digital yang masih tinggi ini dapat berdampak pada semakin besarnya kesenjangan sosial dan ekonomi," ujarnya.

Untuk itu, Unika Atma Jaya mendukung pemerintah dengan berkontribusi secara signifikan terhadap isu kebijakan publik melalui tiga pilar, yaitu akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pesatnya kemajuan teknologi di bidang artificial intelliigence (AI) dan Internet of things bukan saja menghadirkan isu SDM, tetapi juga bagaimana teknologi dikembangkan untuk memecahkan masalah sosial di Indonesia.   Salah satu solusi yang ditawarkan sebagai pengembang SDM adalah memperkuat program melek digital atau digital literacy.

Baca: MKDU di Kurikulum Pendidikan Tinggi Perlu Diredefinisi

Menurut Prasetyantoko, Unika Atma Jaya merasa perlu berkontribusi dalam membangun Indonesia untuk siap menghadapi revolusi industri 4.0. Hal ini selaras dengan misi pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai salah satu 10 besar negara dengan ekonomi terkuat di tahun 2030 dan juga pada misi “Making Indonesia 4.0”. 

"Industri 4.0 hadir dengan kemampuannya dalam meningkatkan produktivitas, tetapi tantangan-tantangan baru pun bermunculan terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia," ujarnya.

Prasetyantoko meyakini, teknologi (revolusi industri 4.0) bersifat netral, sehingga diperlukan desain kelembagaan agar teknologi bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial, seperti peningkatan kapasitas pemasaran usaha mikro kecil menengah melalui e-commerce, 
peningkatan akses keuangan melalui financial techology, inklusifitas akses pendidikan melalui pembelajaran daring, dan sebagainya.”

Mendukung hal ini Unika Atma Jaya juga memberikan penghargaan kepada sivitas Unika Atma Jaya yang telah memberikan kontribusi terhadap penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Asmin Fransiska, Kepala LPPM Unika Atma Jaya, mengatakan penghargaan ini diberikan agar dapat menjadi motivasi para dosen untuk meningkatkan kualitasnya. 

Penghargaan ini diberikan kepada dosen yang memenuhi kriteria penilaian yang berasal dari data dan laporan kinerja dosen dari Unit/Pusat/Fakultas.  “Kami memberikan penghargaan kepada dosen, karena kami mengapresiasi kinerja yang baik dari mereka. Harapan kami penghargaan ini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas bidang unggulan penelitian, publikasi, serta kemitraan,” jelasnya.


(CEU)