Radikalisme dan Kesenjangan Sosial Jadi Tantangan Terbesar Indonesia

Achmad Zulfikar Fazli    •    Selasa, 10 Oct 2017 06:37 WIB
kesenjangan sosialradikalisme
Radikalisme dan Kesenjangan Sosial Jadi Tantangan Terbesar Indonesia
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin (kanan). ANT/Rivan Awal Lingga.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyebut adanya dua tantangan besar yang tengah dihadapi Indonesia. Tantangan itu ialah radikalisme dan kesenjangan sosial.

"Kalau dulu itu tantangannya penjajahan, perang, resolusi jihad, begitu kan? Itu dulu. Sekarang, menurut saya ada dua. Pertama adalah radikalisme dan intoleran. Yang kedua adalah kesenjangan sosial," kata Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin, di Gedung PBNU, Jalan Kramat, Jakarta Pusat, Senin 9 Oktober 2017.

Menurut Ma'ruf, radikalisme merupakan cara berpikir. Bahkan, kata dia, banyak orang-orang yang terbelenggu dalam radikalisme yang memiliki cara berpikir ekstual, hingga berujung pada intoleran.

"Cara berpikir yang rigid, statis pada teks-teks saja. Jadi, tidak ada cara berpikir yang kontekstual. Dari cara berpikir yang tekstual melahirkan sikap yang intoleran. Dia tidak menerima cara berpikir orang lain," jelas Ma'ruf.

Selanjutnya itu, lanjuta dia, kesenjangan sosial terjadi imbas dari kebijakan ekonomi pada masa lalu. Kebijakan ekonomi pada pemerintah yang lampau justru melahirkan konglomerasi.

Ia menilai kebijakan ekonomi pemerintahan yang lalu memberikan keleluasaan para konglomerat untuk menambah kekayaan. Imbasnya, bisa terjadi konflik sosial.

"Kesenjangan sosial ini akibat dari kebijakan masa lalu yang tidak tepat, melahirkan konglomerasi. Yang di atas makin kuat, yang di bawah semakin lemah, antara yang kaya dan yang miskin. Kalau tidak diselesaikan akan terjadi konflik sosial. Sumbernya adalah ekonomi yang tidak berkeadilan," ungkap Ma'aruf.

Ia pun memiliki solusi untuk mengatasi kesenjangan sosial ini, yaitu dengan menanamkan 'Arus Baru Ekonomi Indonesia'.

"Makanya saya mengusung 'Arus Baru Ekonomi Indonesia'. Intinya pemberdayaan ekonomi umat. Kenapa umat? Karena bagian terbesar dari negara adalah umat. Ekonominya harus kita mulai dari bawah," pungkas Ma'aruf.


(DEN)