Kolom Duta Baca oleh Tantowi Yahya

Buka Mata untuk Jendela Dunia

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 21 Sep 2016 10:00 WIB
perpustakaan nasional
Buka Mata untuk Jendela Dunia
Tantowi Yahya (Foto:Metrotvnews.com/Gilang Akbar)

APAKAH Anda seseorang yang gemar membaca buku? Jika ya, artinya Anda adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang begitu luas.
 
Membaca buku sangatlah penting bagi seseorang untuk memperluas cakrawala. Dari sebuah buku itulah yang memberikan banyak sekali ilmu kepada kita. Semakin banyak kita membaca buku, makin banyak kita tahu. Semakin banyak kita tahu, bertambah pula yang kita omongkan. Semakin banyak yang kita bicarakan, karena kita membaca, maka semakin dalam pembicaraan kita.
 
Ketahuilah, buku merupakan jendela dunia. Bagi saya, buku adalah jendela dunia, bahkan ada yang bilang bahwa buku adalah profesor sesungguhnya. Menurut saya, dia adalah profesor yang sangat sabar, jadi seandainya dia dibanting dan dimasukin di bawah bantal, kadang kita tertidur, dia tidak marah dan ilmunya tetap ada.
 
Kebiasaan membaca saya telah tertanam sejak kecil, dimulai dari kebiasaan ibu yang juga suka membaca berita di koran. Dari situ lah, beliau tahu banyak hal. Inilah yang kemudian memicu saya untuk membaca juga. Dari kegiatan ini, sudah banyak sekali manfaat yang saya rasakan. Saya ingat sekali, dulu saya hafal isi buku Ilmu Pengetahuan Umum (IPU), nama gubernur se-Indonesia, nama bupati se-Sumatera Selatan, nama musisi, ibukota negara dunia dan masih banyak lagi. Saya jadi merasa lebih tahu akan banyak hal dibandingkan dengan kawan-kawan sebaya.
 
Tak hanya itu saja, manfaat membaca saya rasakan betul ketika masih berprofesi sebagai pembawa acara. Sebab, seorang MC itu akan 'blank' di atas panggung, agar bisa bicara panjang lebar di panggung, salah satunya dengan membaca.
 
Hingga saat ini saya menjadi anggota Dewan pun, masih bisa merasakan manfaatnya. Alhamdulillah berkat ilmu pengetahuan yang dimiliki dari membaca, membuat saya diterima di kalangan anggota DPR. Di sini saya duduk di Komisi 1, di mana tugas kami meliputi beberapa ruang lingkup, seperti pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen. Mengingat latar belakang saya sebagai seorang seniman, jika dilogika, bidang-bidang itu 'bukanlah' menjadi kapasitas saya. Namun karena itu lah, saya menjadi lebih terpicu untuk mempelajarinya dan mengejar ketertinggalan. Dari mana saya bisa memahaminya, sedangkan saya saja tidak berkuliah untuk materi itu? Ya darimana lagi, kalau tidak membaca.
 
Kegemaran membaca juga mengantarkan saya terpilih sebagai Duta Baca Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk dua periode pada 2006-2008 dan 2008-2010. Sebagai Duta Baca saya mendapat semacam kemewahan untuk bisa berkeliling Indonesia bersama teman-teman Perpusnas untuk bertemu dengan sejumlah kelompok di berbagai penjuru nusantara. Dari situ saya pelajari bahwa memang minat baca belum terbina. Selama 4 tahun saya berkeliling Tanah Air, pertama mendeteksi apakah betul minat baca itu belum begitu tinggi dan kedua apa permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar warga di Indonesia dan juga mencari solusi yang terbaik dalam rangka meningkatkan minat baca pada generasi muda.
 
Oleh karena itu, saya sangat berharap untuk Duta Baca Perpusnas yang sekarang maupun seterusnya bisa memberikan banyak inspirasi kepada masyarakat Indonesia mengenai pentingnya membaca. Jadi mereka harus menunjukkan diri mereka sebagai role model kepada bangsa bahwa mereka bisa menjadi seperti itu (Duta Baca) dengan membaca. Mengapa dia dipercaya untuk menjadi duta, karena tokoh itu memiliki kemampuan luar biasa untuk menginspirasi, apalagi jika banyak yang mengidolakannya. Bila selama ini ketokohannya dipercaya oleh Perpusnas untuk menjadi Duta Baca, maka harus dimanfaatkan untuk menginspirasi masyarakat Indonesia gemar membaca.
 
Saudaraku, perlu diketahui pada Bulan September ini diperingati Hari Kunjung Perpusatakaan dan Bulan Gemar Membaca. Saya melihat pengunjung perpustakaan itu tidak banyak, bahkan saya punya data siapa saja yang berkunjung ke sana, yaitu paling banyak pelajar dan mahasiswa menjelang ujian. Tentu ini menjadi pukulan bagi dunia perpustakaan kita, maka dari itu adanya peringatan tersebut, menurut saya menjadi momentum yang baik bagi kita untuk melakukan sesuatu demi kemajuan bangsa, terutama menghidupkan minat baca pada masyarakat. Tapi tidak cukup sampai di situ saja, yang lebih penting adalah bagaimana memaknai hari yang sudah ditetapkan pemerintah itu sebagai sesuatu hal yang betul-betul secara konsistem kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya dengan mengimplementasikan budaya membaca. Saya juga berharap, perpustakaan di Indonesia akan lebih baik, sehingga mampu menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung ke sana.
 
Terakhir saya ingin katakan, negara yang maju adalah negara yang rakyatnya gemar membaca. Dengan membaca maka rakyat akan tahu semakin banyak pengetahuan yang dimiliki rakyat, dengan begitu semakin ringan pula tugas pemerintah dalam upaya mencerdaskan bangsanya. Saya selaku mantan Duta Baca Perpustakaan Nasional dan anggota DPR RI Tantowi Yahya mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama membantu pemerintah dalam menumbuhkembangkan minat baca mulai usia dini, di sinilah peran orang tua menjadi sangat strategis dan penting. Jika orang tuanya suka membaca, Insya Allah anak-anak akan tumbuh  dengan gemar membaca, dari lingkungan kecil dan akan terus berkembang sehingga pada akhirnya Indonesia akan menjadi negara dengan rakyat yang gemar membaca.


(ROS)

Video /