Psikolog: Anak Terpapar Radikalisme Merasa Hebat saat Mengokang Senjata

   •    Selasa, 15 May 2018 17:22 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Psikolog: Anak Terpapar Radikalisme Merasa Hebat saat Mengokang Senjata
Petugas kepolisian berjaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Moch Asim)

Jakarta: Psikolog Terorisme Mira Nur Milla menyebut fenomena aksi terorisme yang melibatkan perempuan dan anak disadari atau tidak sudah mulai tampak sejak satu atau dua tahun belakangan.

Video yang mempertontonkan anak-anak mengokang senjata yang sempat viral di media sosial menjadi salah satu indikasinya.

"Ketika banyak keluarga yang hijrah ke Suriah membawa serta istri dan anak kemudian mereka masuk ke dalam jaringan, ideologi atau radikalisasi dalam keluarga itu sebenarnya sudah terjadi," ungkap dia, dalam Newsline, Selasa, 15 Mei 2018.

Mira mengatakan secara umum ada dua hal yang menyebabkan anak-anak, terutama remaja berusia 14-16 tahun, mampu melakukan aksi teror.

Pertama adalah mereka yang memang tersososialiasi paham radikal dan menjadikannya sebagai ideologi. Dalam konteks ini, mereka tak segan melakukan aksi teror atas kesadaran sendiri hanya karena ingin menunjukkan jati diri.

Kedua, anak-anak yang memang dididik dan disosialisasi oleh orang tua bahwa hanya ada ideologi tunggal, Islam, dan jihad sebagai bentuk identitas.

"Mereka menganggap bahwa mereka adalah pejuang islam, dan itu hebat. Anak-anak seperti ini kalau dia tidak bisa melihat dunia yang lain dia merasa ini benar dan harus diikuti," kata Mira.

Selain penanaman paham radikal dari orang-orang terdekat terutama orang tua, banyak di antara anak-anak pengikut jaringan teroris yang punya masalah penyesuaian dengan lingkungan.

Mereka cenderung menarik diri dan pada akhirnya hanya bersosialisasi dengan orang tua atau lingkungan yang sangat terbatas.

Meski tak memiliki dunia anak-anak secara umum, kebanyakan dari anak-anak pengikut kelompok radikal ditempa untuk terampil merakit senjata dan diajarkan strategi berperang.

"Dan ada anak-anak yang mempunyai keterampilan merakit senjata sangat cepat. Ini membuat mereka merasa lebih hebat, lebih keren," katanya.

Mira menambahkan paparan radikalisme yang tidak bisa lagi ditoleransi dapat menjadi lebih buruk saat anak-anak ini kehilangan orang tua yang tewas dalam aksi terorisme. Tak mudah untuk menarik mereka kembali ke dunia anak-anak  yang sebenarnya.

"Masih ada peluang untuk menolong mereka karena saya lihat pelibatan anak dan perempuan belum final dan belum jadi bagian dari ideologi. Ini yang kemudian perlu upaya dari pihak lain untuk membantu," jelas dia.




(MEL)