65 Peneliti Ajukan Mosi Tak Percaya kepada Kepala LIPI

Candra Yuri Nuralam    •    Kamis, 28 Feb 2019 15:44 WIB
Riset dan Penelitian
65 Peneliti Ajukan Mosi Tak Percaya kepada Kepala LIPI
Peneliti perkembangan politik LIPI, Hermawan Sulistyo - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Jakarta: Sebanyak 65 peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengajukan mosi tidak percaya atas kepemimpinan Ketua LIPI Laksana Tri Handoko. Handoko dinilai otoriter, tidak transparan, tidak kolegial, tidak partisipatif, tidak humanis dan tidak inklusif, serta dapat menghancurkan LIPI.

"Kami sudah tidak percaya dengan kepemimpinan Dr. Laksana Tri Handoko sebagai Kepala LIPI," kata peneliti perkembangan politik LIPI, Hermawan Sulistyo, di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 28 Februari 2019.

Mosi tidak percaya dikeluarkan oleh para profesor LIPI lantaran Handoko dinilai mengingkari kesepakatan moratorium yang telah ditandatangani pada 8 Februari 2019. Namun, tiga hari setelahnya, kepala LIPI tidak menepati janji untuk menghentikan reorganisasi dan redistribusi sesuai dengan kesepakatan yang berlaku.

Berdasarkan hal itu, kata Hermawan, pemberhentian kepala LIPI harus dilakukan lantaran tindakan Handoko sudah menyimpang dari kesepakatan yang berlaku. Dia meminta pemerintah turun tangan memecat kepala LIPI secepatnya.

"Guna mencegah dampak kerusakan lebih lanjut, kami meminta kepada Presiden Republik Indonesia untuk memberhentikan Dr. Laksana Tri Handoko dari jabatannya sebagai kepala LIPI," tutur Hermawan.

(Baca juga: Menpan RB Minta Reorganisasi LIPI Dihentikan Sementara)

Jika Handoko tidak diberhentikan dengan segera, Hermawan khawatir fungsi LIPI melenceng. Menurutnya, ada lima hal yang paling bahaya jika Handoko tetap memimpin LIPI. Pertama, kepemimpinan Handoko akan menimbulkan instabilitas pemerintahan jelang Pemilu 2019.

Kedua, akan menyebabkan rusaknya sistem dan tata kelola internal LIPI. Ketiga, akan menyebabkan merosotnya pelayanan publik LIPI sebagaimana lembaga pembina peneliti ditingkat nasional. Keempat, Handoko dapat menyebabkan hancurnya reputasi LIPI sebagai pemegang otoritas keilmuan.

Terakhir, ujar Hermawan, kepemimpinan Handoko akan menyebabkan demotivasi dan demoralisasi sivitas LIPI sebagai akibat kebijakan reorganisasi yang tidak visioner.

"Kepala LIPI sebelumnya itu semua jelas sekolahnya. Dia (Handoko) siapa? Tiba-tiba jadi kepala. Kan goblok," tandas Hermawan.

(Baca juga: Kepala LIPI: Pemecatan Pegawai Salah Paham)

Sebelumnya, kepada Medcom.id, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko bersedia melepas jabatan andai ada pihak-pihak yang keberatan atas kebijakan reorganisasi di tubuh LIPI. "Kalau mau ganti atau tidak, silakan. Wong saya juga ditunjuk oleh Presiden. Yang penting saya sudah melakukan tugas," ujarnya, Kamis 31 Januari 2019.
 
Handoko menyebut lumrah jika ada yang tak suka kepadanya. Namun, ia ingin agar ada komunikasi yang baik dalam setiap masalah. "(Tidak suka) itu kan biasa, lagi pula ini (jabatan) struktural. Apa pun alasannya itu hak masing-masing saya tidak bisa menafikan tapi semestinya dikomunikasikan," kata dia.



(REN)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

1 month Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA