Di tengah Teror Bom, Kepala BNPT jadi Pembicara di Wina

Wandi Yusuf    •    Selasa, 15 May 2018 23:40 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Di tengah Teror Bom, Kepala BNPT jadi Pembicara di Wina
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius. Foto: BNPT.go.id

Wina: Di tengah rentetan teror bom di Indonesia, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius menghadiri pertemuan ke-27 Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana PBB (CCPCJ) di Wina, Austria. Di sana, ia menjadi pembicara dan mengampanyekan nilai-nilai toleransi.

Ia mengajak delegasi negara yang hadir untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mencegah dan memerangi terorisme. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bahaya penyalahgunaan internet oleh teroris.

“Salah satu manifestasi dari kejahatan siber adalah penyalahgunaan internet, termasuk media sosial, oleh teroris. Mereka memanfaatkan internet untuk melakukan propaganda, rekrutmen, perencanaan, pendanaaan, dan pelaksanaan aksi-aksi terorisme,” ujar Suhardi, seperti dikutip di laman resmi BNPT, Senin, 15 Mei 2018.

Menurutnya, ada tiga hal yang dapat mencegah penyalahgunaan internet. Pertama, melindungi kelompok masyarakat rentan, khususnya perempuan dan pemuda, dari ideologi radikal yang disebarkan melalui internet.

"Negara perlu memberdayakan perempuan dan pemuda dalam rangka memerangi terorisme," kata dia.

Kedua, negara harus mempromosikan nilai-nilai toleransi, moderasi, dan budaya damai sebagai narasi tandingan atas ideologi radikal yang menyuburkan ekstremisme kekerasan.

Ketiga, negara harus terus berkolaborasi dan menguatkan kemitraan dengan perusahaan-perusahaan penyedia internet.

"Hal ini penting untuk menanamkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga ruang siber dari bahaya penyalahgunaan internet oleh teroris," kata mantan Sestama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) ini.

BNPT dianggap gagal

Di tempat terpisah, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman B Ponto, justru mengkritik BNPT yang dianggap gagal melakukan deradikalisasi. Kegagalan ini dibuktikan dengan munculnya rentetan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, Minggu dan Senin (13-14 Mei 2018).

"Kalau sudah ada bom, berarti sudah gagal pencegahannya," kata Soleman dalam 'Diskusi Roundtable Rangkaian 20 Tahun Reformasi: Ketahanan Nasional Yang Tercabik Sepanjang Era Reformasi', yang diselenggarakan Media Group, di Jakarta.

Baca: Teror Bom Buah Gagalnya Program Deradikalisasi

Dan yang bertanggung jawab terhadap program pencegahan ini, kata dia, adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). "BNPT seharusnya bekerja keras melakukan pencegahan ini," kata dia.

Melihat rentetan bom di Surabaya tadi, Soleman menyimpulkan ada yang alpa dari BNPT. "Bisa dikatakan, ini adalah akibat dari kegagalan BNPT," kata dia.

Ke depan, lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1978 ini meminta BNPT mengkaji ulang program deradikalisasi. Menurut dia, deradikalisasi yang dilakukan BNPT saat ini cenderung fokus pada persoalan agama.

"Mulailah bermain-main dengan membangun karakter bangsa. Musyawarah mufakat juga dihidupkan lagi. Saat ini kecenderungannya melemah," kata dia.

Baca: Empat Anak Pelaku Teror Jadi Saksi Mahkota

Aksi teror pecah di sejumlah titik sejak pekan lalu. Aksi diawali dengan perlawanan narapidana terorisme di rumah tahanan cabang Salemba, Mako Brimob, Depok, Rabu, 9 Mei 2018. Peristiwa ini menggugurkan lima polisi dan satu narapidana teroris.

Polisi berhasil menumpas serangan itu dengan pendekatan lunak pada Kamis, 10 Mei 2018. Sebanyak 155 narapidana terorisme pun menyerah.
 
Minggu 13 Mei 2018, publik dikagetkan dengan serangan teror di Surabaya. Tiga gereja dibom satu keluarga terduga teroris. Belasan orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa ini. Pada malam hari, ledakan juga pecah di dua titik di Sidoarjo, Jawa Timur.
 
Teror tak berhenti di situ, Senin, 14 Mei 2018, sebuah bom meledak di depan Mapolrestabes Surabaya. Pengebom meledakkan diri saat polisi memberhentikan kendaraan mereka.




(UWA)