Kuitansi Palsu RSUD Drajat Prawiranegara Jadi Petunjuk

Fachri Audhia Hafiez    •    Sabtu, 29 Dec 2018 03:22 WIB
pungliTsunami di Selat Sunda
Kuitansi Palsu RSUD Drajat Prawiranegara Jadi Petunjuk
Kuitansi resmi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drajat Prawiranegara, Serang, Banten. (Dok. Plt Kepala Rumah Sakit Drajat Prawiranegara, Sri Nurhayati)

Jakarta: Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drajat Prawiranegara, Serang, Banten menyebut kuitansi yang diterima korban tsunami Selat Sunda dari oknum pemalakan adalah palsu. Kuitansi palsu itu diharapkan jadi bukti polisi untuk pengungkapan kasus.

"Kuitansi yang beredar itu juga bukan kuitansi resmi kami, kami serahkan ke penyidik biar diselidiki. Sehingga ketahuan siapa yang harus bertanggung jawab," kata Plt Kepala Rumah Sakit Drajat Prawiranegara, Sri Nurhayati kepada Medcom.id melalui pesan elektronik, Jumat, 28 Desember 2018.

Sri menjelaskan, RSUD Drajat Prawiranegara hanya menerapkan pembayaran satu pintu, yakni Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Ini merupakan sistem informasi terpadu mengenai data keseluruhan rumah sakit yang terintergrasi.

"Hanya satu pintu, tidak boleh ada tarikan bayaran di instalasi atau unit pelayanan. Semua harus lewat kasir," tegas dia.

Baca: Polisi Periksa Empat Pegawai RSUD Drajat Prawiranegara

Sri juga menyayangkan adanya oknum yang memungut biaya untuk korban tsunami. Dia baru mengetahui adanya praktek oleh oknum petugas RSUD Drajat Prawiranegara dengan mengeluarkan kuitansi palsu.

"Terus terang itu tanpa diketahui oleh manajamen. Pungutan itu sangat melukai kami ditengah semua orang ingin nyumbang kok malah ini malak, sedih sekali," ujar Sri.

Sebelumnya, seorang staf di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RSUD Drajat Prawiranegara berinisial L memalak keluarga korban tsunami yang menerjang Banten, Sabtu, 22 Desember 2018 lalu. L diduga meminta sejumlah uang kepada keluarga korban jika ingin membawa jenazah korban tsunami pulang. 

Keluarga korban tsunami yang dipungut biaya pengambilan jenazah adalah Badiamin Sinaga. Ia adalah warga Klender, Jakarta Timur. Dalam peristiwa tsunami Banten, Badiamin kehilangan tiga orang kerabatnya, yang saat itu sedang liburan ke Pantai Carita.

Keluarga Badiamin yang menjadi korban tsunami Banten adalah Ruspin Simbolon, Leo Manulang, dan seorang bayi bernama Satria. Badiamin harus mengeluarkan Rp3,9 juta untuk mengambil jenazah Ruspin Simbolon, Rp1,3 juta untuk mengambil jenazah Leo Manulang, dan Rp800 ribu untuk mengambil jenazah Satria.

"Buktinya ada kok, ada kwitansinya," ungkap Badiamin.


(LDS)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA