Kalla: Perguruan Tinggi seperti Restoran

M Rodhi Aulia    •    Senin, 17 Jul 2017 12:16 WIB
pendidikan
Kalla: Perguruan Tinggi seperti Restoran
Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: MTVN/Dheri Agriesta.

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perguruan tinggi (PT) terus meningkatkan kualitas. Kalla mengibaratkan PT itu seperti restoran.

"PT itu seperti restoran. Orang tidak melihat di mana tempatnya, berapa harganya. Kalau dia enak, dia akan cari, walaupun harganya mahal," kata Kalla dalam sambutannya di pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) IV Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), Bali, Senin, 17 Juli 2017.

Kalla pun menyinggung fenomena banyaknya orang tua di Indonesia yang menyekolahkan anaknya di luar negeri. Hal itu lantaran pendidikan sangat menyangkut masa depan anak. "Mahal pun dia bayar selama itu yang terbaik," ujar dia.

Wapres mengatakan jumlah PT di Indonesia relatif banyak. Terutama perguruan tinggi swasta (PTS) yang jumlahnya lebih dari 4 ribu.

"Di banyak negara, PTS justru lebih baik daripada negeri. Di Amerika justru Harvard dan swasta lain menjadi pilihan pertama dibanding state university. Di Inggris seperti itu. Oxford misalnya" ujar Kalla.

Artinya, lanjut Kalla, tidak perlu merasa rendah apabila mengelola PTS. Namun, Kalla khawatir dengan jumlah PTS yang begitu banyak.

"Maka tentu terjadi persaingan yang akhirnya cenderung untuk bagaimana lebih murah dan cepat. Di sinilah persoalannya, mengabaikan kualitas. Apabila itu terjadi, sama dengan mengabaikan masa depan anak didik kita," ujar dia.

Merger

Kalla mengusulkan penggabungan sejumlah universitas yang mampu dengan tidak mampu. Tujuannya, agar pengelolaannya semakin efisien dan mutu pendidikannya semakin berkualitas.

"Dibanding China yang penduduknya 1,4 miliar, jumlah PT-nya lebih sedikit dari kita. Tapi, dia lebih maju. Artinya perlu revitalisasi atau regrouping, merger-merger PT, sehingga jumlahnya tidak terlalu besar," ucap dia.

Dia meminta PTS untuk belajar dari pengalaman perbankan. Salah satu penyebab terjadinya krisis moneter pada 1998 adalah jumlah bank yang begitu banyak.

"Apabila mengikuti pola itu, jumlah yang besar belum tentu memberikan manfaat yang besar. Tapi jumlah yang pantas, meningkatkan kualitas, itu bisa memberikan manfaat yang lebih besar," ucap dia.

Gelar

Ijazah dan gelar yang berjubel, kata Kalla, tidak lagi menjadi modal utama dalam bertahan hidup. Saat ini yang paling dibutuhkan adalah kemampuan dan kualitas lulusan PT.

"Orang yang ingin bekerja jarang ditanya lagi apa ijazah mu? Tidak lagi. Formal, iya. Tapi sekarang ditanya, anda mampu apa?" pungkas dia.



(OGI)