Jokowi Harap Wisudawan Siswa Sukma Bangsa Jadi Generasi Emas

Husen Miftahudin    •    Sabtu, 12 May 2018 12:08 WIB
presiden jokowiYayasan Sukma Bangsa
Jokowi Harap Wisudawan Siswa Sukma Bangsa Jadi Generasi Emas
Presiden RI Joko Widodo--Antara/Akbar Nugroho

Pidie: Sebanyak 474 siswa di seluruh jenjang pendidikan menamatkan pendidikannya di Sekolah Sukma Bangsa (SSB). Dari jumlah itu, ada 23 wisudawan anak korban tsunami dan konflik Aceh. Mereka menempa pendidikan di SSB selama 12 tahun.

Presiden RI Joko Widodo berharap lulusan Sukma Bangsa menjadi generasi emas bagi masyarakat Aceh dan Indonesia di masa depan. Tak lupa pula Jokowi berpesan agar wisudawan dan wisudawati SSB meluruskan niat dalam berbakti kepada nusa bangsa.

"Tetaplah menjadi anak bangsa yang berkepribadian Indonesia, serta niatkanlah untuk berbakti kepada negara ini. Sebagai putra-putri terbaik Aceh tunjukkanlah bahwa Ananda siap menjadi generasi penerus Indonesia," pesan Jokowi dalam video yang ditayangkan di aula SSB Pidie, Gampoeng Pineueng, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, Sabtu, 12 Mei 2018.

Sekolah Sukma Bangsa tersebar di tiga kabupaten Pidie, Bireun, dan Lhokseumawe. Pada 14 Juli 2006, Presiden RI waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan SSB. Peresmian itu menandakan dimulainya kegiatan belajar mengajar di tiga lokasi SSB.

Baca: Yayasan Sukma Bangsa Apresiasi Surya Paloh

 
Waktu itu, sebanyak 358 siswa yang mengampu pendidikan di ketiga sekolah tersebut menjadi angkatan pertama di setiap jenjang satuan pendidikan, baik di SD, SMP, maupun SMA. Seluruh siswa di angkatan pertama itu mendapat beasiswa pendidikan dari Yayasan Sukma.



Selain menampung anak-anak korban konflik dan tsunami, SSB juga menerima murid umum. Mereka diwajibkan untuk membayar Biaya Partisipasi Pendidikan (BPP). Jumlah BPP di masing-masing tingkat satuan pendidikan berbeda.

Pada pertengahan 2016, Yayasan Sukma juga menerima 22 siswa korban konflik asal Mindanao, Filipina. Ke-22 anak itu berasal dari provinsi Cotabato, Zamboanga, Basilan, Sulu, dan Tawi-tawi. Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan secara penuh selama empat tahun, dari tingkat SMP hingga SMA.

Pemberian bantuan pendidikan untuk mereka merupakan salah satu bagian dari proses negosiasi pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang dilakukan Yayasan Sukma dengan kelompok Abu Sayyaf pada Mei 2016 silam.


(YDH)