Pengamat Kritisi Bencana jadi Bancakan Ekonomi

Lis Pratiwi    •    Kamis, 18 May 2017 16:57 WIB
bencana alam
Pengamat Kritisi Bencana jadi Bancakan Ekonomi
Warga melihat kondisi tanah sawah retak akibat kekeringan di Desa Hasan Kareueng, Blang Mangat, Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Sabtu (19/3/2016). Foto: Antara/Rahmad

Metrotvnews.com, Jakarta: Bencana yang terjadi dinilai turut menghasilkan peningkatan di sektor ekonomi. Perspektif ini dilihat dari meningkatnya aktivitas pabrik guna memenuhi kebutuhan dalam penanggulangan bencana.

"Contohnya adalah kekeringan, itu bencana dilihat dari sisi petani, tapi pihak lain ada yang memandangnya sebagai uang," ujar pakar ekonomi lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Maria dalam Diskusi Publik di Jakarta Barat, Kamis 18 Mei 2018.

Maria menjelaskan karena pada waktu terjadi kekeringan orang akan membuat waduk. Dalam kasus ini akan ada pembangunan dan anggaran negara dalam bidang infrastruktur yang dibahas.

Pembangunan dan aktivitas ekonomi yang terjadi menunjukkan terjadinya pertambahan nilai uang yang beredar karena ada jasa dan produksi yang berkembang. 

Kendati demikian, pembangunan seperti ini belum tentu memikirkan sumber air untuk pengisian waduk yang dibangun. Intinya, menurut Maria solusi dari masalah utama mengenai kekeringan tidak terjawab.

"Belum tentu dipikirkan darimana sumber airnya, yang penting bikin waduk dulu biar enggak kekeringan,' kata Maria.

Contoh lainnya adalah jika ada anak-anak yang sakit, berarti sektor kesehatan meningkat. Anggaran kesehatan yang ada tersebut bisa digunakan membeli obat, masker, dan sebagainya yang juga meningkatkan pabrik barang-barang tersebut.

Menurut Maria, kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. "Kalau gitu tambahin aja bencananya banyak-banyak karena menghitungnya seperti itu," ujar Maria sambil bercanda.

Dilihat dari konsep ekonomi, Maria menuturkan peningkatan ini dapat menyejahterakan beberapa pihak, seperti berkembangnya jasa transportasi atau bertambahnya penyerapan tenaga kerja di pabrik.

"Itu dari segi ekonomi, tetapi sebenarnya  ujung permasalahannya ini tidak pernah tersentuh," kata maria.


(MBM)