Media Sosial Dinilai Percepat Proses Radikalisasi

Nur Aivanni    •    Jumat, 18 May 2018 05:24 WIB
terorisme
Media Sosial Dinilai Percepat Proses Radikalisasi
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.

Jakarta: Peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia Solahudin mengatakan media sosial bisa memacu proses radikalisasi. Orang bisa terpapar radikalisme, kata dia, dalam waktu singkat, yakni selama setahun.

Menurut Solahudin, berdasarkan riset yang dilakukan pada 2017, butuh waktu lima hingga sepuluh tahun sebelum seseorang melakukan aksi teror. Namun, kini waktu itu dipersingkat dengan adanya media sosial.

"Kini kurang dari satu tahun orang sudah melakukan teror, faktornya apa? Karena proses radikalisasinya berlangsung intensif, melalui apa? Ya, melalui media sosial," kata Solahudin dikutip dari Media Indonesia, Kami, 17 Mei 2018.

Pemerintah, lanjutnya, harus memahami terlebih dahulu bagaimana proses radikalisasi berkembang di media sosial. Dengan begitu, pemerintah baru akan bisa mengambil tindakan yang harus dilakukan untuk menghentikan maraknya paham radikal.

Sebelumnya, tiga anak korban ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, kini menjadi yatim piatu. AR, 15, FPH, 11, dan H, 11, merupakan buah hati pasangan Anto Febrianto dan Puspita Sari.

Ketiga anak itu selamat, sedangkan ayah dan ibu serta satu kakak tertua mereka, Hal, tewas terkena ledakan bom di Rusunawa, Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (14/5). Mereka tewas ketika sang ayah merakit bom.

Menurut penuturan AR, saksi mahkota, kepada polisi, Anton yang keseharian bekerja sebagai penjual jam tangan secara daring itu kerap mendengarkan ceramah melalui internet.

Anton pun sering mengajak anak-anaknya berjihad, sedangkan kemampuan Anton merakit bom didapat melalui Youtube. Bom di Rusunawa Sidoarjo dan Surabaya memiliki kesamaan, yakni bom pipa dengan bahan peledak triacetone triperoxide (TTATP). Bahan peledak jenis itu sangat dikenal di kalangan anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).



(DRI)