Hilang Kontak 28 Tahun, TKI Jumanti Akhirnya Pulang

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 15 May 2018 12:42 WIB
bnp2tki
Hilang Kontak 28 Tahun, TKI Jumanti Akhirnya Pulang
Jumanti bisa pulang ke Tanah Air setelah hilang kontak selama 28 tahun di Arab Saudi. Foto: Medcom.id/ Anggi Tondi

Jakarta: Penantian Jumanti berakhir sudah. Lama menunggu, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu bisa pulang ke Tanah Air setelah hilang kontak selama 28 tahun di Arab Saudi.

Kepulangan nenek yang bernama lengkap Jumanti binti Bejo Bin Nur Hadi alias Qibtiyah Jumanah itu ditemani oleh Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Rombongan disambut oleh Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid.

Orang nomor satu di BNP2TKI itu pun mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang membantu menemukan dan membawa Jumanti kembali ke Tanah Air. 

"Kami atas nama kepala BNP2TKI mengucapkan terima kasih atas prakarsa yang dilakukan KBRI dan Kemenlu, meringankan beban kami di Indonesia," kata Nusron, saat menyambut kedatangan Jumanti di Terminal 2 Common Use Lounge Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 14 Mei 2018.

Politikus Gokar itu menyebutkan, kepulangan Jumanti merupakan bukti bahwa negara hadir di tengah masyarakat. Pemerintah berkomitmen membantu berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, termasuk TKI yang mengalami masalah di negara penempatan. 

"Apa persoalannya, apa pun lamanya persoalan itu tetap dicari sosulsinya. Kita tetap gigih dan pantang menyerah mencari walau satu orang pun WNI yang belum teridentifikasi," ujarnya.

Pantauan Metrotvnews.com/Medcom.id, Jumanti disambut langsung oleh Nusron, didampingi Kepala Humas BNP2TKI Servulus Bobo Riti, Direktur Pemberdayaan Rohyati Sarosa, Kepala BP3TKI Serang Ade Kusnadi, serta pejabat dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Sekitar pukul 15.40 WIB, Maskapai Emirates Airline EK 356 yang membawa Jumanti mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Jumanti yang duduk di kursi roda, didampingi Dubes RI untuk Arab Saudi menuju Common Use Lounge. 

Tak banyak kata yang keluar dari mulut Jumanti. Dia hanya tersenyum membalas sambutan dan pertanyaan yang disampaikan Nusron dan pejabat lainnya.

Setiba di Indonesia, Jumanti tidak akan langsung diterbangkan ke daerah asalnya di Bondowoso, Jawa Timur. Dia akan beristirahat terlebih dahulu di Jakarta. 



Sementara itu, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu KBRI Riyadh menemukan Jumanti, khususnya Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud, yang juga keponakan Raja Salman.

"Gubernur Riyadh yang memerintahkan instansinya mencari nenek. Alhamdulillah setelah surat itu muncul, kemudian semua instansi yang ada di bawah Gubernur Riyadh melakukan pelacakan dan nenek bisa kita temukan," kata Agus.

Agus menyebutkan, keadaan Jumanti selama hilang kontak 28 tahun sangat baik. Di sana, ia tidak lagi bekerja selama 15 tahun terakhir, dan dirawat dengan baik.

Sehari-harinya, perempuan yang kini berusia 74 tahun itu menjadi teman bicara salah satu anggota keluarga yang sebaya dengannya. "Menemani Mama Nuroh, orang tua yang seumuran dengan Nenek (Jumanti) di Arab Saudi," kata Agus.

Meski tidak lagi bekerja, Jumanti tetap mendapat haknya sebagai TKI. Disaksikan langsung oleh pihak Kedubes dan pemerintahan Arab Saudi, pihak keluarga menyerahkan uang kepada Jumanti senilai Rp272 juta.

"Mereka tidak menyebutnya sebagai gaji, karena selama 15 tahun Jumanti tidak bekerja. Uang itu diberikan atas dasar kerahiman, apresiasi kepada Jumanti," ujar dia.

Saat ditanya kepada siapa uang tersebut diserahkan, Nusron menjawab itu merupakan hak Jumanti. Namun, karena kondisi yang sudah uzur, Nusron menyebutkan bahwa pihaknya akan mengawal penyerahan dan pengelolaan uang tersebut agar tidak jatuh ke tangan yang salah.

"Kemarin ada yang dihukum mati mendapat Rp400-500 juta, semua mengaku keluarga. Kita harus hati-hati sekali. Jangan sampai uang itu habis oleh orang yang mengaku keluarga, padahal oknum yang tidak bertanggung jawab. Akan kita pantau, akan kita pegang dulu sampai urusan jelas," kata Nusron.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas BNP2TKI, Servulus Bobo Riti, yang ditemui di CUL Bandara Soetta menyampaikan bahwa apa yang dirasakan oleh PMI putus komunikasi selama 28 tahun ini hanya dirasakan yang bersangkutan. 

“Hanya Nenek Jumanti yang paling tahu bagaimana suasana kebatinannya. Kita semua bersyukur atas peristiwa ini,” imbuh Servulus.



Masyarakat Diimbau Aktif Melaporkan Kondisi TKI

Kasus Jumanti menjadi suatu pelajaran berharga bagi kita semua. Jangan sampai kejadian serupa terjadi pada masa mendatang.

Nusron mengimbau masyarakat aktif melaporkan kondisi keluarga yang bekerja di luar negeri. Dengan begitu, pemerintah bisa langsung merespons permasalahan yang menimpa TKI.

"Pertama, melapor melalui jalur yang benar. Kalau yang di dalam negeri melapor di tempat kami, bisa juga melalui Kemenlu. Kalau di luar negeri, bisa melapor ke perwakilan yang ada, sehingga satu-satunya anjuran kita adalah melapor. TKI yang ingin pulang juga melapor," kata Nusron.

Selain itu, pemerintah juga aktif memantau kondisi pahlawan devisa negara tersebut. Namun, keterbatasan tenaga membuat upaya pemerintah mengawasi TKI di luar negeri terbatas.

"Karena terbatas itulah, kita imbau kepada masyarakat atau keluarga yang merasa ada masalah, atau kesulitan pulang karena hambatan dari majikan untuk melapor ke KBRI," ujarnya.



(ROS)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA