Main Hakim Sendiri Indikator Keraguan pada Aparat

Nur Azizah    •    Rabu, 15 Nov 2017 07:00 WIB
kekerasanasusila
Main Hakim Sendiri Indikator Keraguan pada Aparat
Ilustrasi: Kekerasan. Foto: MTVN/Rakhmat Riyandi.

Jakarta: Kasus main hakim sendiri kembali terjadi. Kali ini sepasang kekasih asal Cikupa, Tangerang yang menjadi sasaran amuk warga.

Dua sejoli berinisial R dan MA dituduh berbuat mesum di dalam kontrakan. Mereka kemudian mendapat perlakuan kasar dan pakaiannya dilucuti.

Komisioner Komnas HAM Mochamad Choirul Anam menuturkan, banyaknya tindakan main hakim sendiri disebabkan warga tidak lagi percaya pada aparat penegak hukum. Warga mengambil jalan pintas dengan caranya sendiri.

“Penyabab ini terjadi mungkin dulunya tidak percaya pada penegak hukum. Lalu dipicu dengan emosi ditambah ada momen. Disitulah tindakannya meledak,” kata Anam dalam program Prime Talk di Metro TV, Jakarta, Selasa, 14 November 2017.

Anam berharap ada efek jera dan peringatan bagi pelaku tindak main hakim sendiri. Menurutnya, menghakimi seseorang dalam alasan apapun tidak dibenarkan.

“Kamu boleh dibakar karena kamu mencuri, itu tidak boleh. Bila masyarakat tidak percaya pada aparat bisa melaporkan ke pengawas, seperti Komnas HAM,” ujar dia.

Sementara itu, Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif tidak sependapat bila praktik main hakim sendiri disebabkan kurangnya rasa percaya pada polisi. Ia menuturkan, warga hanya ingin jalan pintas menghakimi seseorang.

“Mereka menganggap hukum sosial itu adalah hukum pintas yang dapat dilakukan oknum tertentu untuk memberikan efek jera,” ujar dia.

Namun, tindakan main hakim sendiri yang menimpa R dan MA melampaui batas. Menurut dia, warga telah melakukan tindak pidana kerena memukul pasangan kekasih tersebut.

"Korban mengatakan tindakan pidana itu memang ada. Kita lakukan visum dan benar berdasarkan hasil tersebut ada luka bengkak dan lebam-lebam," beber Sabilul.

Polisi pun menetapkan enam orang tersangka dalam insiden tersebut. Mereka adalah G, S, N, T, A, dan I. T yang menjabat sebagai ketua RT setempat juga kedapatan ikut menghakimi R dan MA.

"Perannya masing-masing, yang pertama adalah T ini yang pertama mendobrak pintu ini dan langsung pertama kali dia melakukan penggerebekan dan yang sempat memobilisasi massa," pungkas Sabilul.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan juncto Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak mengeyangkan. Mereka terancam hukuman di atas lima tahun penjara


(Des)