IPB Kembangkan Sistem Deteksi Dini Kebakaran Hutan

Mampu Deteksi Potensi Karhutla Untuk 6 Bulan Ke Depan

   •    Kamis, 23 Aug 2018 16:39 WIB
Riset dan Penelitian
Mampu Deteksi Potensi Karhutla Untuk 6 Bulan Ke Depan
Kondisi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Sumatra Selatan, MI/Rommy Pujianto.

Bogor:  Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan sistem peringatan dini kebakaran lahan, dan hutan berbasis musiman, bernama fire risk system (FRS) yang berfungsi untuk mengantisipasi, mencegah kebakaran hutan, dan lahan.     

"Sistem ini dapat memberikan informasi tentang risiko kebakaran, informasi peta kerentanan kebakaran, dan prediksi titik panas (hot spot) dengan resolusi tinggi, seperti halnya peta risiko kebakaran," kata Rizaldi Boer, Kepala Pusat Risiko Iklim dan Manajemen Peluang di Asia Tenggara Pasifik (CCROM-SEAP) IPB, dalam keterangannya di Kampus Dramaga, Bogor, Jawa Barat, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 23 Agustus 2018.

Fire Risk System merupakan hasil riset atau penelitian sistem informasi berbasis lingkungan yang dikembangkan CCROM-SEAP IPB bekerja sama dengan Colombia University sejak 2008. Menurut Boer, sistem ini dibangun karena sistem peringatan dini kebakaran hutan, dan lahan yang ada selama ini bersifat jangka pendek. 

Kemampuan prakiraan hariannya, hanya antara satu sampai tujuh hari.   "Tapi sistem FRS ini mampu memprakirakan satu sampai enam bulan ke depan," katanya.    

Ia mengatakan, kebakaran hutan, dan lahan merupakan sumber penyumbang emisi gas rumah kaca yang sangat besar. Di Indonesia bahkan sudah menjadi bencana setiap tahunnya, terlebih di musim kemarau.

Kebakaran hutan dan lahan, lanjutnya, menimbulkan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor di Indonesia.  Mulai dari kesehatan, pertanian, penerbangan, habitat satwa, dan lingkungan global, karena emisi karbon. 

"Kebakaran tahun 2015 dikatakan sebagai bencana lingkungan terbesar abad 21. Sekitar 1,7 juta haktare hutan, dan perkebunan hilang, diperkirakan 43 juta orang juga terdampak asap," katanya.    

Baca: Ciptakan Smart Farming, Menangkap Keresahan Petani

Kehadiran sistem FRS diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah, untuk membantu mengantisipasi, dan mencegah kebakaran lahan serta hutan melengkapi sistem informasi peringatan dini jangka pendek seperti FDRS (Fire Danger Rating System) dan SiPongi (aplikasi pendeteksi kebakaran hutan).

Dengan sistem FRS ini, peta perkiraan tingkat risiko kebakaran lahan dan hutan memiliki resolusi yang cukup tinggi yaitu 5x5 km untuk provinsi, dan 1x1 km untuk kabupaten.  "Informasi prakiraan risiko kebakaran diperbaharui setiap pertengahan bulan dengan waktu prakiraan satu sampai enam bulan ke depan," katanya.      

Sistem FRS telah dikembangkan IPB di 10 provinsi, di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung.     

Selain itu, juga dikembangkan di delapan kabupaten terpilih di Provinsi Riau, Kalimantan Tengah, yakni Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Dumai, Pulau Pisau, Kapuas, Palangkaraya, dan Barito Selatan.     

"Kami akan serahkan sistem ini kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), harapannya bisa digunakan pemerintah, sehingga kejadian kebakaran dapat diturunkan, dan upaya-upaya pencegahan dapat dilakukan secara optimal, disinergikan dengan sistem pemerintah yang sudah digunakan selama ini," katanya.


(CEU)