Menristekdikti Dinilai Konyol Awasi Aktifitas Digital Mahasiswa dan Dosen

Whisnu Mardiansyah    •    Jumat, 08 Jun 2018 15:22 WIB
Radikalisme di Kampus
Menristekdikti Dinilai Konyol Awasi Aktifitas Digital Mahasiswa dan Dosen
Wakil Ketua DPR Fadli Zon--Medcom.id/M Rodhi Aulia

Jakarta: Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai kebijakan Kemenristekdikti mengawasi aktifitas digital mahasiswa dan dosen konyol. Kebijakan itu justru semakin memunculkan stigma kampus sebagai sarang radikalisme. 

"Ini kekonyolan daripada Kemenristekdikti untuk melakukan hal itu. Saya tidak percaya sama sekali dimana kampus itu menjadi sarang kaum radikal," kata Fadli di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Juni 2018. 

Menurut Fadli, pemerintah sedang membentuk stigma sendiri seolah kampus menjadi sarana penyebaran radikalisme. Fadli meminta kebijakan Menristekdikti dibatalkan. "Karena kampus kita ini modern tempat pendidikan dan tidak ada stigma (radikal)," ujarnya. 

Fadli melanjutkan, pemerintah harus menjelaskan definisi radikal yang jelas. Pemerintah harus bisa membedakan mana kritik keras dan mana pemikiran radikal. "Radikal itu dari kata radict itu artinya akar, berfikir mengakar. Di dalam filsafat kalau kita belajar filsafat harus berfikir mengakar," pungkasnya. 

Baca: Pendataan Ponsel dan Medsos Bidik Mahasiswa Baru

Wacana Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir tentang pendataan dan pengawasan aktivitas digital (ponsel dan medsos) sivitas akademika dipastikan akan jalan terus.  Meski sejumlah pemangku kepentingan di bidang pendidikan tinggi sempat meminta rencana tersebut untuk dibatalkan.

Nasir akan mengundang seluruh Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia pada 25 Juni mendatang. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas langkah-langkah bersama yang akan dilakukan untuk menyikapi radikalisme di perguruan tinggi.



(YDH)