Sekolah tak Sekadar Mengatur Waktu Belajar

Intan fauzi    •    Sabtu, 17 Jun 2017 12:39 WIB
pendidikan
Sekolah tak Sekadar Mengatur Waktu Belajar
Antarina F. Amir. Foto: Metrotvnews.com/Intan

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengelola pendidikan Highscope Indonesia, Antarina F. Amir, meminta pemerintah menilik kembali tujuan dari aturan lima hari sekolah. Terutama relevansinya dengan penguatan pendidikan karakter.

Menurutnya, penguatan pendidikan karakter tak bisa diukur dengan lamanya waktu belajar. Hal itu justru harus seiring dengan proses pembelajaran.

"Pengembangan karakter sangat kuat pengaruhnya dari learning process. Salah satunya atmosfer dan suasana belajar. Ini dampaknya besar terhadap penguatan karakter," kata Antarina dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu 17 Juni 2017.

Ia mencontohkan, sistem hukuman dalam proses belajar tak efektif diterapkan kepada anak. Sebab, sistem hukuman berdampak pada kualitas kepercayaan diri anak.

Sistem pendidikan, kata dia, harusnya mengajarkan anak untuk tak takut berbuat kesalahan karena itu termasuk dalam proses pembelajaran.

"Kalau ini dilakukan, anak akan percaya diri, jujur, dan mau mengakui kesalahan," kata dia.

Baca: Sekolah 5 Hari bukan 'Barang Baru' di Makassar

Antarina menganggap ada masalah mendasar dalam pengaturan waktu pembelajaran di sekolah yang saat ini tengah diatur pemerintah. Lamanya waktu belajar dinilai menambah beban pada anak.

"Jadi, saya lebih cenderung menyamakan pendekatan belajarnya saja. Suasana belajarnya sama, tak ada ketakutan. Sekolah nyaman dan budaya belajarnya baik. Lebih baik berkonsentrasi pada hal-hal itu," kata Antarina.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pasal 2 peraturan itu menyatakan hari sekolah dilaksanakan 8 jam dalam sehari atau 40 jam selama 5 hari. Sabtu dan Minggu libur.


(UWA)