Moeldoko: Metode Teror Surabaya Sulit Dideteksi

Dheri Agriesta    •    Rabu, 16 May 2018 15:34 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Moeldoko: Metode Teror Surabaya Sulit Dideteksi
Polisi bersiaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur. Foto: Antara/M Risyal Hidayat

Jakarta: Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko menilai aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, menggunakan metode baru. Metode ini lebih sulit dideteksi dari aksi sebelumnya.

Rangkaian serangan teror di Surabaya dilakukan oleh tiga keluarga. Pembentukan sel teror dalam satu keluarga ini membuat komunikasi dengan jaringan teroris lain lebih minim.

"Dia tidak perlu menggunakan alat komunikasi, sehingga sulit dideteksi," kata Moeldoko di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu, 16 Mei 2018.

Pelaku teror keluarga ini bebas berkomunikasi di dalam rumah. Aparat keamanan pun kesulitan mendeteksi karena mereka tak menggunakan alat komunikasi apa pun untuk merancang aksi.

"Kalau (terduga teroris) tersebar, dia harus berkomunikasi," kata dia.

Moeldoko juga menyorot cara terduga teroris keluarga beraksi. Pelaku teror di Surabaya langsung meledakkan diri saat diberhentikan petugas.

"Metode pekerjaannya kesatria, disetop langsung meledak," kata dia.

Baca: Densus 88 Gerebek Rumah Terduga Teroris di Kunciran

Minggu, 13 Mei 2018, publik dikagetkan dengan serangan teror di Surabaya. Tiga gereja dibom oleh satu keluarga terduga teroris. Belasan orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa ini.

Aksi serangan di tiga gereja itu dilakukan satu keluarga. Sang ayah Dita Upriyanto merupakan pengemudi mobil yang meledakkan diri di Gereja Pantekosta, Jalan Arjuno. Sebelum meledakkan diri, Dita sempat menurunkan istrinya Puji Kuswati dan dua anaknya FS, 12, dan VR, 9.

Puji dan dua anak perempuan itu meledakkan diri di GKI Diponegoro. Sementara itu, dua anak lelaki Dita, Yusuf Fadil, 18, dan FH, 16, berangkat menggunakan sepeda motor ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Mereka meledakkan diri menggunakan bom yang diletakkan di pinggang.

Malam harinya, ledakan juga pecah di dua titik di Sidoarjo, Jawa Timur.

Teror tak berhenti di situ, Senin, 14 Mei 2018, sebuah bom meledak di depan Mapolrestabes Surabaya. Bom terlihat dibawa kendaraan roda dua. Pengebom meledakkan diri saat polisi memberhentikan kendaraan mereka di depan gerbang.




(UWA)