Kolom Duta Baca Indonesia oleh Andy F Noya

Sehari Tak Membaca, Sama Rasanya seperti Tidak Bernapas

M Studio    •    Selasa, 18 Oct 2016 10:06 WIB
perpustakaan nasional
Sehari Tak Membaca, Sama Rasanya seperti Tidak Bernapas
Andy F Noya (Foto:Metrotvnews.com)

MEMBACA adalah keharusan bagi saya. Ketika kebiasaan membaca sudah menyatu dengan diri kita, sehari tidak membaca itu rasanya ada yang hilang. Sama seperti kalau kita tidak bisa bernapas.

Saya merasa beruntung sekali karena sejak saya kecil nenek dan orangtua saya suka mendongeng. Waktu yang paling saya tunggu adalah saat menjelang tidur, karena orangtua saya selalu membacakan buku dan dongeng.

Dari situ, kegemaran membaca dalam diri saya tumbuh. Dari kegemaran membaca, imajinasi saya juga berkembang. Pada saat saya berulang tahun, saat di Sekolah Dasar (SD), ibu memberikan hadiah sebuah buku. Begitu setiap kali saya berulang tahun. Ini menjadi kado yang selalu saya tunggu.

Idealnya orangtua kini juga mulai membangkitkan lagi kebiasaan mendongeng sebelum tidur. Kebiasaan itu sekarang mulai memudar karena kesibukan orangtua mencari nafkah yang mengakibatkan para orangtua lelah dan tak ada lagi waktu mendongeng. Padahal mulai dari dongeng, kemudian dibacakan buku bacaan, akan membangkitkan ketertarikan anak untuk membaca.

Saya merasakan betul bagaimana manfaat membaca. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak cukup, sementara ilmu pengetahuan setiap hari terus berkembang, membaca adalah salah satu alternatif untuk mendapatkan ilmu yang lebih dari apa yang kita dapatkan di sekolah maupun kampus.

Pada saat masih di bangku SMP, guru kami menyuruh siswanya membaca buku dengan halaman yang sudah ditentukan. Tapi tidak dengan saya. Dalam waktu sehari, saya lahap semuanya, sehingga ilmu yang saya dapat dari buku itu sudah selesai. Suatu hari ketika guru sedang menerangkan dan saya turut menjelaskan, guru itu menangis. Kemudian saya dipanggil ke kantor guru. Dia bilang, "Andy, kamu boleh pintar, tapi kamu tidak boleh mempermalukan saya".

Berkat membaca, ilmu yang saya dapat lebih advance atau melampaui teman-teman yang lain. Saya yakin, setiap orang yang mendapatkan informasi dan pengetahuan lebih awal, biasanya dia  bisa merebut banyak peluang. Bahkan dalam pekerjaan, saya yang notabene dengan pendidikan terbatas karena tidak lulus sarjana, bisa leading dan lebih unggul dari teman-teman yang lain. Mengapa bisa begitu? Karena bacaan saya lebih banyak daripada teman-teman lainnya. Jadi, ilmu pengetahuan yang saya dapatkan jauh lebih banyak dibandingkan teman-teman yang mugkin expert di satu bidang. Saya punya ilmu lebih banyak dari mereka, sehingga bisa memecahkan masalah lebih cepat dan komperhensif dibandingkan mereka.

Membaca terbukti ampuh karena bisa mengasah kompetensi diri. Namun sayangnya minat baca di negeri kita ini masih sangat rendah. Saya melihat ada dua faktor yang mempengaruhi. Pertama, faktor budaya baca yang kurang berkembang, karena kita cenderung pada budaya tutur. Orang lebih suka mendengarkan. Sekarang ada televisi, radio yang mendominasi informasi yang diterima masyarakat.

Faktor kedua, harga buku yang mahal. Kita tahu persis terutama di daerah untuk membeli buku sangat sulit. Selain karena faktor harga buku yang mahal, juga tidak tersedianya toko buku. Masyarakat harus bertarung, antara harus makan hari ini atau harus menyisihkan uang untuk membeli buku. Kalaupun ada yang menabung, belum tentu ada akses untuk mendapatkan buku yang berkualitas.

Sebagai Duta Baca periode 2011-2015 saya merasa animo masyarakat untuk membaca tinggi sekali. Terutama di daerah-daerah yang tidak memiliki akses buku berkualitas. Ketika saya datang ke berbagai daerah, betapa saya melihat anak-anak haus akan bacaan. Tapi mirisnya, bacaaan yang tersedia terbatas sekali.  

Kalau saja pemerintah menyadari ini, sebenarnya pajak untuk kertas harusnya diturunkan, sehingga buku menjadi murah. Pemerintah juga mesti menyadari pentingnya membuat harga buku itu murah dan akses untuk mendapatkan buku menjadi mudah. Apalagi, jika memanfaatkan kemajuan teknologi yang berkembang sekarang.

Kini Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah memudahkan orang untuk mendapatkan materi yang dibutuhkan bukan secara fisik saja, melainkan juga melalui teknologi informasi, antara lain website online dan terakhir saya lihat Perpusnas sudah mengembangkan iPusnas. Ini merupakan suatu kemudahan yang disediakan Perpusnas untuk bisa menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akses ke toko buku.

Lebih dari itu saya melihat tantangan yang dihadapi kini adalah bagaimana mengisi perpustakaan dengan 'roh'. Karena di beberapa tempat ada pemerintah daerah membangun perpustakaan yang besar dan didukung Perpusnas, tapi tidak ada orang yang mampu menghidupkan suasana di sana. Di satu pihak saya juga menilai di sejumlah Perpusda (Perpustakaan Daerah) ada orang-orang inspiratif dan kreatif yang menjadikan perpustakaan tak sekedar ruang baca, tapi ruang untuk beraktivitas. Mulai dari berbagai kegiatan untuk anak-anak, ibu-ibu dan remaja, ada pula aneka perlombaan seperti baca puisi hingga lomba bermusik.

Dengan adanya kegiatan itu, secara tidak langsung akan mendorong banyak orang datang ke perpustakaan. Katakan saja ada 100 pengunjung, saya yakin paling tidak 30-nya nyangkut untuk membaca. Menurut saya inilah cara kreatif yang harus ditumbuhkan di berbagai daerah. Terutama, perpustakaan dengan fisik yang sudah bagus dan jumlah buku yang luar biasa itu. Saya optimis hal ini bisa mendorong orang untuk datang dan membaca. Jangan biarkan gedung-gedung perpustakaan itu menjadi dingin, sepi dan kehilangan 'roh'.

Terakhir, saya Andy F Noya, Duta Baca periode 2011-2015 mengajak Anda untuk meningkatkan kegemaran membaca. Karena kita semua tahu, melalui bacaan kita mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, kita bisa meningkatkan kompetensi diri kita agar kita mampu bersaing dengan siapa pun, dalam hal apa pun.

Sekarang tidak ada alasan untuk tidak membaca,  karena Perpustakaan Nasional sudah memudahkan hidup kita dengan menyediakan aplikasi iPusnas untuk membaca buku-buku secara gratis. Ayo, jangan lupa unduh aplikasi iPusnas. Hidup kita menjadi lebih mudah karena banyak pengetahuan yang kita bisa dapatkan dari situ, untuk meningkatkan kualitas diri kita pribadi.

*Andy F Noya adalah Duta Baca Indonesia 2011-2015


(ROS)