Dubai Jadi Tuan Rumah WCCE 2020

Wandi Yusuf    •    Kamis, 08 Nov 2018 14:44 WIB
World Conference on Creative Economy (WCCE)
Dubai Jadi Tuan Rumah WCCE 2020
Ketua Bekraf Triawan Munaf - Medcom.id/Wandi Yusuf.

Nusa Dua: Penyelenggaraan perdana Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) 2018 resmi ditutup siang ini. Indonesia melanjutkan estafet agenda ini ke Dubai, Uni Emirat Arab (UAE), yang sejak acara ini dibuka paling menunjukkan minatnya.

"Sejak hari pertama, UAE sudah menawarkan diri untuk menyelenggarakan WCCE berikutnya. Dan tadi diresmikan WCCE kedua akan diselenggarakan di Dubai," kata Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Joseph Pesik, usai penutupan WCCE di Nusa Dua, Bali, Kamis, 8 November 2018.

Selain UEA, sejumlah negara juga tertarik menjadi tuan rumah, di antaranya Kolombia dan Malaysia. Namun, UEA dinilai yang paling antusias untuk menyelenggarakannya. 

"Dubai juga akan menjadi World Expo 2020. Sepertinya mereka ingin ada kesinambungan. Jadi, mereka paling antusias," lanjut Ricky.

Sebagai penggagas, Indonesia meminta UAE tetap memakai tema dan logo yang sama. Tema 'Inklusif Kreatif' harus tetap diusung selama WCCE diselenggarakan. "Karena poin penting dari penyelenggaraan WCCE adalah inklusivitasnya," kata dia.

(Baca juga: Dubai Tertarik Meniru Pesta Ekonomi Kreatif Indonesia)

Ketua Bekraf Triawan Munaf mengatakan ketertarikan negara lain menyelenggarakan WCCE tak lain karena sifatnya yang inklusif. "Keinklusifan ini yang membuat mereka tertarik dan menjadi alasan sepenuhnya mendukung acara ini," kata dia. 

Sifat inklusif, lanjut Triawan, kerap didengungkan oleh Presiden Joko Widodo. Bahkan, dalam proyek-proyek infrastruktur pun, sifat inklusif terlihat. Seperti, melibatkan banyak pengembang lokal.

"Sederhananya, inklusivitas itu menyajikan pemerataan, keseimbangan, dan keadilan," kata dia.

WCCE 2018 merupakan konferensi internasional pertama yang membahas mengenai ekonomi kreatif. Sebanyak dua ribu peserta hadir di acara ini. Mulai dari pemain ekonomi kreatif, regulator, akademisi, dan masyarakat sipil. Sebanyak empat isu utama sudah dibahas, antara lain kohesi sosial, regulasi, pemasaran, serta ekosistem dan pembiayaan industri kreatif.

(Baca juga: Menghidupkan Inklusi Ekonomi Kreatif di Bali)
 


(REN)