Tegal dan Sejarah Dewa Tek Hay Cin Jin

Lis Pratiwi    •    Selasa, 13 Feb 2018 14:55 WIB
perayaan imlek
Tegal dan Sejarah Dewa Tek Hay Cin Jin
Klenteng Tek Hay Kiong di Jalan Gurame, Tegal, Jawa Tengah. Foto: MTVN/Gilang Akbar

Jawa Tengah: Tiga altar utama langsung menyambut pengunjung yang memasuki gedung utama Klenteng Tek Hay Kiong di Jalan Gurame, Tegal, Jawa Tengah.  Di tengah klenteng merupakan tempat pemujaan bagi dewa utama atau tuan rumah klenteng ini: Tek Hay Cin Jin.
 
Keberadaan altar Tek Hay Cin Jin di klenteng tersebut punya sejarahnya sendiri. Menurut catatan, Tek Hay Cin Jin yang bernama asli Kwee Lak Kwa pernah tinggal di Tegal dan menolong masyarakat di sepanjang Pantai Utara (Pantura).
 
“Kita percaya tokoh bernama Tek Hay Cin Jin ini mencapai moksa, mencapai tingkat kedewaan di lautan Tegal,” ujar Rohaniawan Klenteng Tek Hay Kiong, Chen Li Wei Daochang kepada Medcom.id di Tegal, Jawa Tengah, Selasa, 6 Februari 2018.
 
Peristiwa itu menjadikan Tegal sebagai pusat tempat pemujaan Dewa Tek Hay Cin Jien. Selain Tegal, klenteng lain di sepanjang Pantura juga memiliki altar pemujaan untuk dewa tersebut, seperti di Indramayu, Cirebon, Semarang, dan Pekalongan.

Baca: Warga Tionghoa di Madiun Bersihkan Patung Dewa-Dewi 

Daochang menambahkan, berdasarkan catatan arsip dan buku riwayat Kota Semarang, Kwee Lak Wa adalah salah satu tokoh perlawanan kepada VOC pada 1740 di Batavia. Namun, versi lain menjelaskan bahwa tokoh tersebut hidup di masa sebelum 1740.
 
Pasalnya, 1740 merupakan masa kekuasaan Dinasti Cing. Sementara kostum yang dikenakan Kwee Lak Wa merupakan masa Dinasti Ming yang berkuasa sebelumnya.
 
“Jadi, kita percaya beliau hidup dari era yang lebih tua dari 1740, ini masih kita selidiki,” jelasnya.
 
Selain Tek Hay Cin Jin, dua altar besar lainnya diperuntukkan bagi Hok Tek Ceng Sin, yakni Dewa Bumi dan Ceng Gwan Cin Kun, yang merupakan dewa asli Fujian di distrik Changtai, tempat asal para pendiri Klenteng Tek Hay Kiong.




(FZN)