Masalah pada Indikator Kecepatan Udara Berdampak Sistemis

   •    Rabu, 07 Nov 2018 13:57 WIB
Lion Air Jatuh
Masalah pada Indikator Kecepatan Udara Berdampak Sistemis
Puing pesawat Lion Air PK-LQP JT-610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Foto: ANTARA/Galih Pradipta)

Jakarta: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga salah satu penyebab jatuhnya Lion Air JT610 PK-LQP karena masalah pada indikator kecepatan udara (airspeed indicator). Selain adanya perbedaan data dari kapten dan kopilot, airspeed control juga berpengaruh pada performa pesawat.

"Kita tahu airspeed indicator mengalami problem. Apa reaksi pesawat dan bagaimana reaksi pilot saat itu, hanya akan bisa diungkap dari CVR (cockpit voice recorder)," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, dalam Metro Pagi Primetime, Rabu, 7 November 2018.

Soerjanto mengatakan airspeed indicator merupakan salah satu parameter utama referensi pilot saat terbang. Beberapa kegunaan dari komponen ini antara lain untuk melakukan manuver.

Airspeed indicator bisa mendeteksi dan memperkirakan pada kecepatan berapa pesawat bisa bermanuver dengan aman. Selain itu, airspeed indicator juga berfungsi mengatur sayap-sayap kecil pesawat ketika hendak menaik-turunkan pesawat sesuai dengan kecepatan. 

"Kalau kita mau full down speed, katakanlah batasnya 160 knot ke bawah, flap (sayap) baru bisa full down. Kalau airspeed-nya enggak ada sementara flap-nya di-extend sampai full down padahal kecepatannya masih tinggi, jebol nanti," kata dia.

Baca juga: Data Airspeed Kapten dan Kopilot Berbeda

Menurut Soerjanto, pilot memang dilatih untuk merasakan kecepatan pesawat saat berada dalam penerbangan namun hal itu hanya bisa dilakukan ketika masih dekat dengan daratan. Dengan melihat benda-benda yang terjangkau oleh pandangan mata, pilot dapat memperkirakan kecepatan yang bisa diatur.

"Kalau di darat kita lihat pohon bisa memperkirakan kecepatannya seperti apa, tapi ketika sudah di atas indikator ini yang paling berperan," ungkapnya.

Soerjanto mengakui empat pesawat terakhir dengan nomor dan jenis yang sama sempat mengalami problem. Namun hal itu sudah ditangani oleh teknisi maskapai. 

Terkadang, kata dia, ketika di darat hasil pengujian atas perbaikan pesawat dalam kondisi baik-baik saja setelah dilakukan tindakan. Masalah atau gangguan teknis justru lebih sering terjadi ketika pesawat telah mengudara.

"Setelah diperbaiki mereka cek tapi yang mengecek itu komputer, istilahnya by check setiap komponen yang berhunungan dengan power atau sensor-sensor dalam pesawat. Tapi secara fungsi apakah hasil perbaikan itu bekerja atau tidak hanya terjadi saat pesawat dalam penerbangan," jelasnya.




(MEL)