Ini Masalah Utama Perguruan Tinggi di Indonesia

Anggi Tondi Martaon    •    Senin, 19 Jun 2017 15:00 WIB
berita dpr
Ini Masalah Utama Perguruan Tinggi di Indonesia
Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Kepulauan Riau. Foto: Dok. DPR

Metrotvnews.com, Jakarta: Tim Panitia Kerja Standar Nasional Perguruan Tinggi (Panja SN DIKTI) Komisi X DPR RI menggelar pertemuan dengan Gubernur Kepulauan Riau yang diwakili Assisten II dan jajaran SKPD, beberapa Rektor dan Direktur Perguruan Tinggi Kepri, Ketua Kopertis Wilayah X Kepri, Perwakilan Kemenristek Dikti dan instansi terkait, di Graha Kepri Batam.

Ketua Tim Kunspek Panja SN DIKTI sekaligus Wakil Ketua Komisi X DPR Sutan Adil Hendra mengatakan, setidaknya ada tiga temuan yang didapat oleh pihaknya, yaitu rasio dosen, sarana dan prasarana serta masalah akreditasi. 
 
Selain tiga masalah utama tersebut, ada temuan yang dianggap tak kalah penting, yaitu masih rendahnya minat terhadap penelitian/riset terutama di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta karena dukungan anggaran dari pemerintah relatif masih kecil. 
 
"Ke depan kita dorong melalui Kemenristek Dikti untuk memberikan dukungan porsi anggaran penelitian/riset yang lebih besar, karena penelitian akan meningkatkan kualitas dosen yang berimbas pada kemajuan sebuah perguruan tinggi," imbuh Sutan. 
 
Politisi Gerindra ini juga prihatin jika melihat sarana dan prasarana antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang sangat mencolok terutama di luar Jawa. Akibatnya, kemampuan mayoritas Perguruan Tinggi di Indonesia untuk memenuhi Standar Nasional Dikti menjadi tidak merata.
 
Legislator Dapil Jambi ini melihat ada ketimpangan mutu Perguruan Tinggi sehingga mayoritas institusi dan prodi terakreditasi 'C' (BAN-PT). "Akibatnya hanya ada 3 universitas di Indonesia yang masuk World Rank (QS) dari Top 500," tandas dia.
 
Untuk permasalahan rasio dosen, Wakil Rektor Universitas Batam Satryawan, mengusulkan agar PTN yang memiliki rasio dosen berlebih agar dikerahkan untuk membantu proses perkuliahan di  PTS. Sebagai contoh minimnya minat akademisi S3 jurusan akuntansi mengajar di PTS karena lebih memilih bekerja sebagai konsultan di perusahaan swasta.
 
"Saya juga berharap saat visitasi (datang memeriksa) BAN PT sebaiknya memiliki persepsi yang bisa memaklumi kondisi sarana dan prasarana PTS, tidak memaksakan harus sama dengan PTN," pungkas Satryawan.
 
Ikut serta dalam Tim Panja SN DIKTI Komisi X DPR yaitu Sutan Adil Hendra (Ketua Tim/Wakil Ketua Komisi X) dengan anggota Bambang Sutrisno, Jamal Mirdad, Ida Bagus Putu Sukarta, Nuroji, Muslim, Yayuk Basuki, Dedi Wahidi, Zainul Arifin Noor, Mustafa Kamal, Yayuk Sri Rahayuningsih dan Dadang Rusdiana.

(ROS)