Gunakan Medsos untuk Ajarkan PMP di Sekolah

Patricia Vicka    •    Jumat, 07 Dec 2018 17:38 WIB
Kurikulum Pendidikan
Gunakan Medsos untuk Ajarkan PMP di Sekolah
Mendikbud, Muhadjir Effendy, Medcom.id/Citra Larasati.

Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana menghidupkan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Pemerintah akan menggunakan media sosial (medsos) sebagai metode baru dalam menanamkan nilai-nilai pancasila. 

Mendikbud Muhadjir Efendi mengatakan teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak-anak generasi milenial. Pembelajaran PMP dengan menggunakan media sosial akan lebih memudahkan siswa menyerap materi pancasila.

"Penggunaan teknologi itu harus. Ini untuk merespons anak-anak sekarang di era milenial," tegas Muhadjir di Yogyakarta, Kamis 6 Desember 2018.

Selain itu penggunaan teknologi akan membuat proses penanaman nilai menjadi lebih menyenangkan. Ia melanjutkan jenis dan bentuk teknologi diserahkan kepada pihak sekolah. Sebab para guru dan pengajar lebih memahami anak didiknya.

Pengajaran PMP akan dimulai pada tahun ajaran 2019/2020. Awalnya hanya sekolah PAUD hingga SMP yang mendapatkan materi ini. Muhadjir menambahkan materi PMP kini tengah digodok. Ia menegaskan materi yang diajarkan akan berbeda dengan materi pancasila zaman dahulu.

"Materinya baru. Mengikuti perkembangan zaman dan anak-anak era milenial. Intinya akan kita pisahkan pembelajaran nilai-nilai kepancasilaan dan pembelajaran kewarganegaraan," jelasnya.

Baca: PMP Diminta Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Pengajaran nilai-nilai Pancasila akan lebih banyak berupa praktik untuk membentuk sikap, perilaku dan budi pekerti.  Agar mudah dipahami, lanjut Muhadjir guru bisa menunjukkan contoh nyata pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sementara untuk kewarganegaraan lebih menekankan pada ilmu pengetahuan dan aspek kognitif.


(CEU)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA