Pemerintah Kebut Pemulihan Sulteng

Kautsar Widya Prabowo    •    Minggu, 21 Oct 2018 08:09 WIB
gempagempa bumiGempa Donggala
Pemerintah Kebut Pemulihan Sulteng
Warga korban gempa tsunami Palu berjalan usai melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Baitussalam di Desa Loli Saluran, Donggala. Foto: Antara/Muhammad Adimaja.

Jakarta: Penanganan darurat dampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih terus dilakukan. Pemulihan fokus pada memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dan normalisasi kehidupan masyarakat. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sejumlah fasilitas publik di daerah terdampak bencana berangsur pulih. Beberapa fasilitas yang sudah bisa digunakan antara lain listrik dan jaringan komunikasi.

"Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen dan jaringan telkomsel juga telah pulih 100 persen," kata Sutopo, Jakarta, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Sutopo menyebut untuk pasokan listrik, tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset pun telah dioperasikan ke lokasi-lokasi terdampak gempa. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen.

Namun, khusus di kabupaten Donggala, aliran listrik belum 100 persen berfungsi seperti di kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung dan Sirenja. "Perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi," ujarnya.

(Baca: Aktivitas Pusat Perbelanjaan di Palu Semakin Normal)

Dari sisi perekonomian juga mulai berangsur normal. Menyusul, 25 stasiun pengisian bahan bakar umum di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong dibantu 13 unit mobil tangki dengan dispenser mulai beroperasi.

"Penyaluran bahan bakar menggunakan 40 truk tangki dengan mengerahkan 132 relawan operator," ucap Sutopo.

Tak hanya itu, sebanyak 25 pasar daerah, tiga pasar tradisional, tiga pasar swalayan, dan 17 bank pun sudah kembali beroperasi. Bahkan sekolah darurat telah berjalan meski ada kekurangan tenda darurat, sarana prasarana pendidikan dan siswa yang masih belum mau masuk sekolah.


(JMS)