MUI belum Keluarkan Fatwa Halal Vaksin MR

Arga sumantri    •    Kamis, 12 Oct 2017 12:45 WIB
imunisasi
MUI belum Keluarkan Fatwa Halal Vaksin MR
Komisi Fatwa MUI, Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin (baju hijau) - MTVN/Arga Sumantri

Metrotvnews.com, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan belum mengeluarkan sertifikasi halal untuk vaksin Measles Rubela (MR). MUI mengaku belum diminta memeriksa halal-tidaknya vaksin MR. 

"Belum ada fatwa MUI tentang kehalalan vaksin MR sampai saat ini," kata Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin AF, di kantor MUI, Jakarta Pusat, Kamis 12 Oktober 2017.

Hasanuddin menyatakan, hingga saat ini belum ada permintaan kajian tentang vaksin MR dari produsen dalam hal ini Biofarma. Mekanisme pengajuan masih diproses pihak produsen. 

"Jadi jelas kalau di lapangan ada isu-isu vaksin MR sudah halal itu suatu kebohongan," tandas dia. 

Menurut Hasanuddin, vaksinasi memang boleh, bahkan wajib manakala dalam kondisi darurat, apalagi berpotensi menyebabkan kematian. Namun, menurut dia, idealnya vaksin apapun yang digunakan harus memiliki sertifikasi halal.

Misalnya, vaksin meningitis untuk jemaah haji. Meningitis dulu belum dapat sertifikasi halal, tapi masih boleh diberlakukan sebab dalam kondisi darurat.

"Sebelum ada vaksin meningitis yang halal itu yang haram digunakan, tapi setelah ada yang halal itu tidak boleh," ungkap dia. 

Ia meminta pemerintah memerhatikan betul hal ini. Pemerintah dinilai harus kembali mengacu pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang produk halal.

(Baca juga: Pemerintah Yakinkan Vaksin MR Aman)

Masalah kehalalan imunisasi MR menjadi penyebab beberapa orangtua menolak membawa anaknya untuk imunisasi. Persoalan halal-haram vaksin mencuat saat pemerintah akan memberikan vaksin rubella atau MR (measles-rubella). 

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek memastikan vaksin itu tak terbuat dari bahan-bahan yang dinyatakan haram, misalnya mengandung unsur babi seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Vaksin dipastikan aman dan bisa dimanfaatkan untuk imunisasi campak rubella pada anak-anak. "Vaksin ini tidak terbuat dari barang yang disebut haram. Ini dibuat atau ditanam di telur ayam dan diambil dari sel punca, stem cell dari manusia. Jadi, tidak ada kaitannya dengan haram," kata Nilla.

Nila mengatakan imunisasi campak rubella wajib bagi semua anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun dan tidak ada alasan untuk menolaknya. Sebab, setiap anak berhak atas kesehatan dan sebagai orang tua wajib melindungi anak dan memastikannya tumbuh sebagai anak yang sehat.

"Sama sekali tidak benar (vaksin rubella haram) dan ini merupakan tanggung jawab orang tua untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak (salah satunya) melalui imunisasi," ujar Nilla.


 


(REN)