AirNav Tegaskan Slot Penerbangan Transparan

Renatha Swasty    •    Jumat, 15 Dec 2017 17:11 WIB
penerbangan
AirNav Tegaskan Slot Penerbangan Transparan
Petugas menunjukkan kondisi 'real time' lalu lintas ruang udara Indonesia dengan aplikasi flight radar 24 milik Airnav Indonesia di Jakarta, Rabu (16/9).

Jakarta: Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menegaskan pengelolaan waktu terbang (slot time) transparan. AirNav Indonesia menegaskan sistem yang dibangun minim kecurangan. 

Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia Didiet KS Radityo menjelaskan pengelolaan slot time dilakukan secara online melalui sistem aplikasi Chronos. Aplikasi itu memungkinkan seluruh maskapai memiliki akses langsung untuk mengajukan slot, mengubah slot, hingga membatalkan slot.

"Dan ini semua online, real time serta transparan. Setiap maskapai secara bersamaan bisa melihat dan mengakses tampilan yang sama, sehingga setiap upaya kecurangan, jika ada, akan terlihat oleh lainnya," kata Didiet dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id, Jumat, 15 Desember 2017. 

Dia menambahkan pengelolaan slot time sesuai dengan KP 112 tahun 2017 tentang Tata Cara Pengelolaan Alokasi Ketersediaan Waktu Terbang (slot time) Bandara. Dia menjelaskan untuk penerbangan reguler, maskapai telah mendapat izin terbang dan slot dari Direktorat Angkutan Udara berdasarkan periode terbang, baik saat musim salju maupun panas. 

Didiet mengakui jadwal penerbangan tidak selalu tepat. Ini lantaran berbagai faktor, seperti kendala cuaca, alasan operasional, hingga force major. Ini, tambah dia, membuat maskapai harus melakukan penyesuaian slot. 

“Di sinilah maskapai menggunakan Chronos untuk melihat di jam manakah mereka bisa masuk. Maskapai akan mengecek bandara asal dan bandara tujuan, apakah kapasitasnya masih tersedia. Dan semua ini online serta real time, jadi sangat transparan,” jelas Didiet.

Adapun terkait permintaan ekstra flight, Didiet menjelaskan setiap maskapai harus mendapatkan flight approval (FA) dari Direktorat Angkutan Udara dengan memerhatikan kapasitas bandara. Prosesnya, maskapai mengakujan ke AirNav untuk mengetahui kapasitas runway bandara. 

(Baca juga: Kemenhub Diminta Antisipasi Praktik Jual Beli Slot Penerbangan saat Musim Liburan)

Lalu maskapai juga harus meminta izin ke bandara asal maupun tujuan untuk mengetahui kapasitas apron, parking stand, hingga kapasitas terminal. Dia bilang kalau ini sudah klop semua, maskapai mengajukan ke Direktorat Angkutan Udara. 

"Setelah disetujui, maka Flight Approval-nya terbit dan saat dia masuk ke Chronos, FA-nya sudah akan ada di sana karena telah terintegrasi,” imbuh dia. 

Dia memastikan persetujuan slot time memerhatikan Notice of Airport Capacity (NAC) dari bandara asal maupun tujuan. AirNav bakal memastikan penerbangan dapat dilayani sesuai dengan kapasitas runway.  

Didiet mencontohkan Bandara Internasional Soekarno Hatta, AirNav, dan AP II melakukan peningkatan pergerakan pesawat. AirNav melakukan terobosan dengan investasi peralatan, peningkatan prosedur, dan peningkatan SDM. 

AP II sebagai pengelola bandara melakukan investasi di landasan pacu, seperti penambahan rapid exit taxiway dan rencana pembangunan east cross taxiway. Maskapai sendiri meningkatkan performansi dari kesigapan pergerakan atau efisiensi waktu.

Hasilnya, terjadi peningkatan jumlah kapasitas pergerakan pada 2012 sebelum AirNav dibentuk. Kapasitas bandara Soekarno Hatta hanya 52 pergerakan per jam. "Di 2013 setelah AirNav Indonesia terbentuk kapasitas penerbangan di Bandara Soekarno Hatta meningkat sebanyak 64 pergerakan. Pada 2014 menjadi 72 pergerakan, pada 2016 menjadi 76 pergerakan, dan di 2017 menjadi 81 pergerakan per jam," beber dia. 

Didiet menambahkan ini sudah sesuai dengan Instruksi Menteri nomor 16 tahun 2017 menggantikan IM nomor 8 tahun 2016. Dia bilang kapasitas yang di-publish tersebut bukanlah kapasitas 100 persen bandara. Sebab, AirNav harus memberikan ruang untuk emergency flight atau extra flight. 

Menurutnya, peningkatan kapasitas runway dapat terjadi karena program-program yang dilakukan AirNav, pengelola bandara, maupun maskapai. Itu pun, kata dia bakal, dievaluasi sesuai instruksi menteri. 

"Jadi memang arahnya kapasitas bandara harus meningkat, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, namun tetap memprioritaskan keselamatan penerbangan," tandas Didiet. 




(REN)

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

1 day Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA