Revolusi Industri 4.0, Tantangan atau Ancaman?

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 11 Jul 2018 10:43 WIB
Atma Jaya
Revolusi Industri 4.0, Tantangan atau Ancaman?
Universitas Katolik Atma Jaya melalui Program Magister Teknik Elektro siap menghasilkan tenaga kerja berkompeten (Foto:Dok)

Jakarta: Revolusi industri 4.0 sudah di depan mata. Siap tidak siap, kita semua harus menghadapinya. Berbagai aspek kehidupan mulai berubah akibat dampak dari revolusi industri 4.0, mulai dari perubahan pola pikir dan gaya hidup manusia.

Dalam era ini keterampilan tenaga kerja juga perlu ditingkatkan jika tidak ingin tergantikan robot.

Kepala Staf Presidenan (KSP) Moeldoko, mengatakan tantangan ini akan dihadapi oleh semua kalangan, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, generasi muda harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut. 

"Mereka yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun dirinya," kata mantan Panglima TNI itu, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 9 Februari 2018.

Memang tidak bisa dipungkiri internet dan teknologi telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Sebenarnya hal ini telah diprediksi pada tahun 90-an. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartato menjelaskan revolusi industri 4.0 dimulai dengan revolusi internet yang dimulai pada tahun 90-an yang sempat dibahas dalam rapat APEC.

Ia mengatakan pada saat itu, globalisasi yang dikhawatirkan adalah lahirnya digitalisasi. Saat ini semua negara sudah merasakan dampaknya. "Tahun 90-an belum tahu kalau internet efeknya akan seperti hari ini. Hari ini seluruh negara di dunia baru melihat apa efek dari Internet of things (IoT)," kata Airlangga, beberapa waktu lalu.

Airlangga mengatakan pemanfaatan IoT pertama kali dilakukan oleh Jerman. Selain itu istilah industri 4.0 juga dipopulerkan oleh Jerman. "Jadi industri 4.0 mengikat kepada industri di Jerman," ujarnya.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, Airlangga mengaku sudah menyiapkan empat langkah strategis, salah satunya terkait dengan keterampilan tenaga kerja. Hal ini menjadi penting karena soal pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot selalu menjadi diskusi hangat akhir-akhir ini. Padahal tidak semua pekerjaan akan selalu diisi oleh robot.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong keterampilan tenaga kerja Indonesia dalam mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri manufaktur. Keterampilan itu diperoleh melalui pelatihan vokasi bagi pelajar SMK dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Selain itu, Kemenperin juga telah melaksanakan program pendidikan dan pelatihan vokasi, salah satunya mengusung konsep link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hingga saat ini, program pendidikan vokasi yang diluncurkan di beberapa wilayah Indonesia tersebut, melibatkan sebanyak 618 perusahaan dengan menggandeng hingga 1.735 SMK.

"Tujuannya adalah menciptakan satu juta tenaga kerja kompeten yang tersertifikasi sesuai kebutuhan dunia industri pada 2019," kata Airlangga.



Menghasilkan tenaga kerja yang berkompeten dalam menghadapi revolusi industri 4.0 bukan hanya menjadi perhatian pemerintah semata, namun juga menjadi perhatian bagi perguruan tinggi. Sebab, perguruan tinggi memiliki peran besar dalam membekali para lulusannya dengan keterampilan khusus yang bisa langsung diterapkan di dunia kerja.

Salah satu perguruan tinggi yang siap menghasilkan tenaga kerja berkompeten adalah Universitas Katolik Atma Jaya melalui Program Magister Teknik Elektro. Sebagai bagian dari lembaga pendidikan Indonesia, Universitas Katolik Atma Jaya turut bertanggung jawab untuk menyediakan lulusan yang fasih dengan industri 4.0.

"Kami menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten dalam menghadapi revolusi industri 4.0," ujar Kepala Program Magister Teknik Elektro Universitas Katolik Atma Jaya Lukas, kepada Medcom.id, saat ditemui di BSD Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 3 Juli 2018. 

Lukas menjelaskan Program Magister Teknik Elektro menawarkan tenaga pengajar dengan latar belakang bidang ilmu yang bervariasi, seperti ada yang ahli di bidang elektronika, sistem cerdas, telekomunikasi, radar, dan encoding. 

"Kami memang punya cukup variasi bidang ilmu dengan ketajamannya masing-masing. Jadi ini yang kami tawarkan ke masyarakat untuk sebagai program studi yang punya ketajaman, terutama di intelijen, sistem cerdas, otomation. Lalu merangkumnya menjadi pengetahuan," katanya.

Menurut Lukas, dalam revolusi industri 4.0 komunikasi bukan hanya antara manusia dengan mesin, tetapi komunikasi mesin ke mesin (IoT). Sehingga komunikasi antar mesin tidak perlu lagi melalui manusia. Nah, topik-topik tersebut dibahas dan dipelajari lebih mendalam di kelas dan sudah diatur dalam kurikulum.

"Jadi beberapa topik itu jadi pembahasan di perkuliahan kami, mata kuliah kami dalam kurikulum yang kami tawarkan sudah merangkum topik tadi," ujarnya.

 

Pola pengajaran yang ditawarkan juga tidak selalu teori, melainkan diskusi antara kelompok dan tentunya praktek. Selain itu, proses pembelajaran juga tidak harus dilakukan di dalam kelas, bisa juga dengan sistem online. Pemanfaatan teknologi misalnya kuliah webinar (seminar online) sehingga mahasiswa dapat berinteraksi dan bertukar pengetahuan dengan profesor dan mahasiswa dari berbagai negara.  

Magister Teknik Elektro bekerja sama dengan program S1-nya menyediakan beberapa laboratorium berkualitas dalam membekali keterampilan para mahasiswanya. Beberapa laboratorium yang dimiliki adalah laboratorium telekomunikasi, laboratorium inovasi, laboratorium sistem kendali, laboratorium komputer, laboratorium elektronika, dan masih banyak lagi. 

Untuk program magister terdapat ruang residensi. "Di magister, salah satu ruang yang ditawarkan ada ruang residensi, di mana para mahasiswa magister dalam proses tesisnya ada tempat melakukan penelitan yang lebih fokus. Dia punya area untuk beraktivitas menyiapkan tesisnya. Seluruh perangkatnya kita sediakan, baik terkait servernya, lalu perangkat untuk IoT. Kalau server mungkin untuk big data. IoT device kita punya mikro kontrolel, sensor, ardino," ujarnya.

Mahasiswa yang kuliah di sana memiliki beragam latar belakang. Ada yang lulusan elektronika, telekomunikasi, dan informatika. Begitu masuk, mereka akan menjurus dalam proses sehingga tesis bisa disesuaikan dengan latar belakang dan minat.

"Tesis bisa ancang-ancang dari awal. Dia bisa perkenalan dengan pembimbing profesor atau lainnya. Nanti tesisnya diharapkan sesuai dengan minatnya dan kita akan selalu mengajak berkontribusi ke tempat dia bekerja. Hasil penelitanya dilaporkan dan berkontribusi ke perusahaannya," tuturnya.

Lukas membeberkan bahwa pihaknya rutin melakukan pertemuan dengan para alumni setahun sekali. Dalam pertemuan ini, alumni sering dimintai pendapat mengenai perkembangan teknologi di dunia kerja seperti apa. Hal ini nantinya menjadi masukan ke kampus untuk terus memperbaharui materi mengajar agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.

"Mahasiswa bisa mendengarkan dari alumni kerja di mana, tantangan terbaru di industri seperti apa, sehingga mahasiswa dan dosen dapat masukan. Saya sebagai kaprodi bertanggung jawab untuk menyerap itu, kemudian mendiskusikan dengan para dosen untuk melihat pada mata kuliah apa kontennya harus diperbarui. Sebetulnya sih tanggung jawab dosen untuk memperbarui konten, tapi dengan masukan dari alumni menjadi lebih tajam sambil melihat perkembangan," ucap Lukas.

Dalam memperluas jaringan dan meningkatkan kualitasnya, Magister Teknik Elektro Universitas Katolik Atma Jaya juga bekerja sama dengan beberapa universitas di luar negeri, seperti Taiwan, Jerman, dan Belgia. 

Jika Anda tertarik mengikuti program Magister Teknik Elektro Universitas Katolik Atma Jaya, cari infonya lebih lanjut di sini.  Anda juga bisa langsung mendaftar secara online dengan mengklik tautan https://admission.atmajaya.ac.id. 


(ROS)