Kasus PCC Harus Jadi Momentum Peningkatan Kampanye Anti-Narkoba

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 16 Sep 2017 19:40 WIB
obat berbahaya
Kasus PCC Harus Jadi Momentum Peningkatan Kampanye Anti-Narkoba
Ribuan pil PCC disita dari distributor obat resmi farmasi di Makassar berinisial PBS SS, pada Jumat 15 September 2017. (Foto: Antara).

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai harus ada sinergi antar lembaga kementerian juga dinas terkait, untuk menyosialisasikan dampak dari penyalahgunaan obat. Terlebih korban penyalahgunaan adalah anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. 
 
Komisioner KPAI bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menyebut, adanya kasus penyalahgunaan obat jenis Carisoprodol diharap menjadi momentum untuk pemerintah. 
 
Dia berharap, pemerintah tak hanya sekedar memadamkan api. Tapi harus lalukan pencegahan, agar tak terjadi lagi penyalahgunaan obat jenis lainnya. 
 
"Saya rasa ini juga gunung es karena kabarnya sudah terjadi di Bima dengan 30 korban tetapi tidak terekspos seperti di Kendari, dan kami berharap ini jangan seperti memadamkan api tapi mari kita buat gerakan-gerakan bersama," jelas Retno, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 16 September 2017. 
 
Dia mengatakan, pemerintah harus bertanggung jawab khususnya pada Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementerian Agama yang bertugas membawai pengawasan anak-anak. Menurutnya, penyalahgunaan obat bukan hanya tugas dari Kemeterian Kesehatan. 
 
"Saya rasa harus memiliki program bagaimana mengkampanyekan kepada  anak-anak tentang penyalagunaan obat sangat berbahaya," ujarnya.
 
Dia mengatakan, kampanye cerdas menggunakan obat seharusnya bukan hanya ke Departemen Kesehatan tapi juga ke anak-anak. Dia berharap, orang tua maupun guru memiliki sensitifitas  terhadap anak-anak yang mereka didik.
 
"Kalau dia melihat anaknya ada perubahan prilaku mestinya segera menangani tidak cuek, karena anak-anak menunjukkan kalau kita dekat dengan anak kita tahu perilaku anak, dan tiba-tiba berubah harusnya kita sadar," bebernya. 
 
Dia mencontohkan, bila tiba-tiba anak menjadi penyendiri atau tiba-tiba menjadi sangat aktif. Selain itu, dia mencontohkan, anak yang tiba-tiba sangat menjaga telepon pintarnya agar tak disentuh orangtua. Terlebih saat ini era digital, segala informasi bisa didapat anak dengan mudah. 
 
"Semua info yang dia dapat, menyalahgunakan obat itu efek sampingnya dimanfaatkan oleh anak-anak," katanya. 
 
Oleh karena itu, kampanye cerdas menggunakan ovat diharap bukan hanya menjadi gerakan dari Kementerian Kesehatan tapi juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementerian Agama pun Kementerian Sosial. 
 
"Gunakan anggaran iklan untuk menyadarkan anak terkait dengan kasus penyalahgunaan obat sehingga dampaknya tidak merepotkan negara kelak dan tidak menimbulkan biaya yang besar," bebernya. 
 
Senada, Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia 1996-2011 Anthony Charles Sunarjo, menyebut mestinya oemerintah aktif mewajibkan iklan layanan masyarakat yang berisi edukasi bagaimana cerdas menggunakan obat serta dampak penyalahgunaan obat. 
 
"Ini perlu diedukasi, makanya tadi saya kasih contoh. Di Hong Kong, yang negaranya lebih maju diiklankan terus menerus disosialisasikan supaya menggunakan obat yang benar," katanya.

 

 
(FJR)