Dua Mahasiswi Penakluk Seven Summit Diproyeksikan jadi Duta Bangsa

   •    Jumat, 08 Jun 2018 23:31 WIB
prestasi mahasiswa
Dua Mahasiswi Penakluk Seven Summit Diproyeksikan jadi Duta Bangsa
Staf Khusus Presiden saat melepas Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari yang akan mendaki Gunung Everest. Foto: Medcom.di/Achmad Zulfikar Fazli

Jakarta: Prestasi dua mahasiswi dari tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan Bandung (WISSEMU) menaklukkan tujuh gunung tertinggi di dunia dipuji Kantor Staf Presiden (KSP). Kepala KSP Jenderal (Purn) Moeldoko melihat prestasi itu sebagai bukti dan contoh upaya membanggakan negara bangsa tanpa banyak bicara.

“Yang penting contoh, teladan, tak perlu banyak bicara. Sama seperti Presiden Jokowi, tidak banyak bicara, tapi banyak membangun dan menyejahterakan warga,” kata Moeldoko saat menerima Fransiska Dimitri Inkiriwang (Didi) dan Mathilda Dwi Lestari di Bina Graha, Kantor Staf Presiden, melalui keterangan tertulis, Jumat, 8 Juni 2018.

Dua mahasiswi dari Universitas Parahyangan Bandung itu menyempurnakan empat tahun sejarah pendakian mereka dengan berhasil mencapai puncak Gunung Everest pada Kamis, 17 Mei 2018 pukul 05.50 waktu Kathmandu atau 07.05 WIB.

Sebelum menuntaskan pendakian Gunung Everest setinggi 8.848 meter, keduanya telah mencapai puncak enam gunung tinggi di dunia, yakni:
1. Carstensz Pyramid (4.884 meter) di lempeng Australiasia pada 13 Agustus 2014, 
2. Elbrus (5.642 m) di lempeng Eropa pada 15 Mei 2015,
3. Kilimanjaro (5.895 m) di lempeng Afrika pada 24 Mei 2015,
4. Aconcagua (6.962 m) di lempeng Amerika Selatan pada 30 Januari 2016, 
5. Vinson Massif (4.892 m) di lempeng Antartika pada 4 Januari 2017, dan 
6. Denali (6.190 m) di lempeng Amerika Utara pada 7 Juli 2017.

“Selamat atas prestasi luar biasa ini. Kalian telah menjadi kebanggaan bangsa, menggelorakan nama Indonesia di dunia internasional, sehingga orang luar tak bisa lagi menyepelekan negara kita,” kata Moeldoko.

Panglima TNI periode 2013-2015 ini menegaskan perjuangan seperti yang dilakukan Didi dan Mathilda tidaklah mudah. “Mereka ini orang-orang hebat yang selalu menjadikan tantangan sebagai kebutuhan. Semangat menghadapi tantangan ini harus diviralkan kepada generasi milenial.”

Atas inspirasi keduanya, Moeldoko berencana menjadikan mereka ‘brand ambassador’ atau duta bangsa. “Misalnya sebagai duta antinarkoba. Karena sangat ironis, saat mereka bisa berprestasi hebat, anak-anak muda lain berkubang dengan penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Keberhasilan Didi dan Mathilda diharapkan dapat memacu semangat atlet Indonesia dalam Asian Games 2018 untuk mencapai prestasi terbaik.  

Pada kesempatan tersebut, Didi dan Mathilda menyatakan rasa syukurnya karena Sang Merah Putih dapat berkibar di tujuh puncak dunia. “Keberhasilan ini kami persembahkan untuk persatuan bangsa. Untukmu Indonesia,” kata Mathilda. 

Mereka pun bercerita tentang beratnya tantangan di masing-masing gunung. “Yang paling berat di Denali, Alaska. Selain karena dingin, di sana kami harus membawa sendiri beban masing-masing 40 kilogram,” kenang Didi.

Baca: Tim WISSEMU Mulai Mendaki Gunung Everest

General Manager WISSEMU Sebastian Karamoy menyatakan proyek Seven Summit ini dijalani dengan ‘jatuh bangun’ selama empat tahun, baik dalam mempersiapkan pendaki, tim, maupun sumber daya ekonominya. “Tak banyak yang mau jadi sponsor atau berinvestasi pada kegiatan ini karena termasuk olahraga berisiko tinggi,” jelasnya.

Di kesempatan terpisah, Ketua Umum Wanadri Andi Angga Kusuma mengatakan selama ini perhatian pemerintah terhadap para pecinta alam dan pegiat alam bebas dinilai cukup baik. Ia mengapresiasi kepedulian dari KSP di bawah kepemimpinan Moeldoko.

Namun, ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih. "Agar masyarakat Indonesia tahu jika ada warga Indonesia yang siap bersaing dalam meraih prestasi apa pun," ujarnya.





(UWA)