Pulihkan DAS Ciliwung, Menteri LHK Resmikan Ekoriparian Srengseng Sawah

M Studio    •    Senin, 17 Apr 2017 12:28 WIB
antam
Pulihkan DAS Ciliwung, Menteri LHK Resmikan Ekoriparian Srengseng Sawah
Peluncuran kawasan Ekoriparian DAS Ciliwung Srengseng Sawah oleh Menteri LHK didampingi oleh Dirjen PPKL KLHK MR. Karliansyah dan Deputi Gubernur Prov.DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar M.Mungkasa (Foto:Dok.Antam)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya meresmikan Pengembangan Ekoriparian dan Stasiun Pemantau Kualitas Air secara Online (Online Monitoring System) Srengseng Sawah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Ekoriparian ini adalah salah satu kegiatan percontohan restorasi dan konservasi untuk perbaikan kualitas air.

DAS Ciliwung merupakan salah satu sungai yang sangat penting di pulau Jawa. Aliran sungai ini mencapai 120 km melalui wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Pembangunan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah telah dimulai sejak 2015, melalui berbagai kegiatan kepedulian terhadap kelestarian DAS Ciliwung. Siti mengajak seluruh pemangku kepentingan dari mulai masyarakat, pemerintah, hingga pihak swasta untuk secara aktif bergotong royong demi keberlanjutan program tersebut.

"Keterpaduan langkah diperlukan untuk memperbaiki kualitas air sungai kita ini. Dan untuk mewujudkan keadilan dalam memperoleh air bersih dari hulu sampai hilir sungai," ujar Siti, saat ditemui saat peresmian di RT008/RW 01 Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu, 15 April 2017.

Siti mengatakan, perbaikan kualitas air diperlukan di 15 sungai, salah satunya sungai Ciliwung. Hal itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo.
Siti yang juga didampingi oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Tuti H Mintarsih menjelaskan, kualitas air sungai semakin lama semakin memprihatinkan akibat pembangunan yang tak berwawasan lingkungan dan pertumbuhan penduduk.

Data hasil pemantauan kualitas air yang dilaksanakan Kementerian LHK melalui kegiatan dekonsentrasi pada 2016, menunjukkan bahwa 73,24 persen pada kondisi status mutu Cemar Berat dan hanya 2,01 persen dalam kondisi memenuhi Baku Mutu Kualitas Air Kelas II.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian LHK, M.R. Karliansyah menyatakan, tujuan kawasan Ekoriparian ini adalah untuk memperbaiki kualitas air sungai dengan menurunkan beban pencemaran melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

"Berbagai fasilitas lain yang dibangun diharapkan bisa menunjang perubahan pola pikir masyarakat mengenai kelestarian sungai," kata dia.

Karliansyah menuturkan, pengembangan ekoriparian dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang fungsi sungai. Selama ini, yang masyarakat tahu, sungai hanya berfungsi memenuhi ketersediaan air dan sumber daya alam lain dari kelengkapan ekosistemnya.

"Tetapi, sungai juga mempunyai fungsi ekonomi dan sosial budaya yang bermanfaat untuk menumbuhkembangkan kesadaran betapa bermanfaat dan pentingnya sungai," paparnya.

Program ekoriparian diinisiasi oleh multipihak seperti pemerintah, swasta, komunitas, serta masyarakat. Sebanyak tujuh perusahaan dan beberapa komunitas masyarakat terlibat langsung dalam pengembangan kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah.

Pengembangan Ekoriparian meliputi berbagai kegiatan, yakni Penurunan beban air limbah dengan pengolahan air limbah domestik dan air larian kawasan urban (urban storm water) sebelum dibuang ke sungai; Pengurangan sampah dengan melakukan pembuatan kompos dari sampah yang dihasilkan masyarakat; Pembelajaran rain harvesting, urban farming, pembudidayaan tanaman obat (toga); Sarana edukasi.

Berbagai fasilitas juga dibangun di dalam kawasan ekoriparian, di antaranya oleh PT Antam (persero) Tbk (Antam) meliputi jogging track dari limbah tailing, bantuan perahu bermotor, dan dermaga.

Direktur Operasi Antam, Agus Zamzam Jamaluddin mengatakan, pengelolaan lingkungan merupakan aspek penting dalam program keberlanjutan Antam dan kinerja lingkungan terus menjadi perhatian perusahaannya.

"Dalam kerja sama multipihak ini Antam berpartisipasi penyediaan bahan baku material pembangunan jogging track hasil inovasi pemanfaatan tailing yang bernama Green Fine Aggregate (GFA) serta bantuan pembangunan dermaga dan perahu bermotor eduecowisata," ujarnya. "Antam juga akan terus melakukan inovasi bidang lingkungan untuk memberikan nilai tambah kepada masyarakat," tambahnya.


Pembangunan fasilitas jogging track dari material inovasi pemanfaatan limbah Antam dengan target sepanjang 2 kilometer (Foto:Dok.Antam)


Menurut Agus, GFA disebut sebagai material sisa proses pemisahan mineral emas dan perak dari bijih di tambang emas Pongkor. GFA dimanfaatkan sebagai komponen penyusun beton untuk bahan bangunan yakni batako, paving block, cone block, bata ringan, bata press, panel/tiang beton, rigid pavement untuk jalan, ubin beton, genteng, dan median jalan.

Sejumlah komunitas sejak awal aktif dalam pembangunan kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah, yaitu Mat Peci dan Gerakan Ciliwung Bersih.

Beberapa rencana ke depan telah disiapkan agar pendampingan warga sekitar kawasan bisa lebih diberdayakan melalui aktivitas kedua komunitas. Ini dilakukan untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.


(ROS)