WCF 2016, Bukti Budaya Menyatukan Keberagaman dan Menyelaraskan Pembangunan

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 15 Oct 2016 22:09 WIB
wcf 2016
WCF 2016, Bukti Budaya Menyatukan Keberagaman dan Menyelaraskan Pembangunan
Pertunjukan seni di World Culture Forum 2016 (Foto:Antara/Wira Suryantala)

Metrotvnews.com, Bali: Penyelenggaraan World Culture Forum (WCF) 2016 telah berakhir pada Kamis, 13 Oktober. Acara bertajuk Culture for an Sustainable Planet itu berfokus pada pembangunan berdasarkan kebudayaan.

WCF 2016 menjadi wadah penghubung budaya dan pembangunan melalui simposium. WCF 2016 juga menjadi bukti bahwa budaya bisa menyatukan keberagaman, meskipun berbeda negara, suku, dan agama.

Dalam rangkaian acara WCF 2016, yang diselenggarakan sejak 10 Oktober, terlihat kemeriahan dan harmonisasi budaya antar negara. Acara yang dihadiri 1.500 peserta dari berbagai negara itu menggelar serangkaian agenda.

Pada hari pertama, dilangsungkan Cultural Visit. Peserta diajak mengetahui budaya subak di situs warisan budaya dunia di Jatiluwih, Tabanan, Bali. Tak hanya melihat bagaiman subak itu bekerja, peserta WCF juga diperlihatkan manfaat subak dalam menjaga harmonisasi antara manusia dengan alam melalui ritual kebudayaan, yakni melalui upacara meminta air suci kepada dewa, di Pura Basukaru. Peserta menyaksikan petani meminta air suci untuk mengaliri kanal-kanal subak.

Selain mempelajari subak, para peserta disuguhi keragaman budaya Indonesia dan mancanegara melalui Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma (RTWSD). Tak hanya melihat topeng asal Indonesia, juga terdapat topeng dari berbagai penjuru dunia, serta pertunjukan kesenian Indonesia dari berbagai daerah.





Pertunjukan diawali dengan penampilan anak-anak yang mempersembahkan tari tor-tor Maemean-mean asal Sumatera Utara. Setelah itu, para peserta diajak berkeliling ke seluruh pendopo yang berisi koleksi topeng dan wayang pun barong di rumah topeng.

Tak sampai di situ, selanjutnya peserta disuguhkan pertunjukan seni berupa tari topeng. Decak kagum peserta tak henti, di kala RTWSD menyajikan pertunjukan asal Papua berjudul "Menembus Kegelapan Dance."

Hari yang beranjak malam, membuat suasana Amphitheater Rumah Topeng semakin apik. Tata pencahayaan dipadu aliran musik serta sajian pertunjukan semakin menyihir penonton. Peserta dibuat terpesona melihat tarian berjudul Kunang-kunang. Tarian itu dilakukan oleh anak-anak. Koreografi yang apik dan cantik menyihir para peserta.

Kian malam, peserta makin dimanjakan dengan beragam pertunjukan yakni Tari Rangde yang dipadu dengan Belawan Band. Kemudian Gandrung dance, ditutup dengan tari Tok-Tok.

"Saya baru dua hari di sini, dan dua hari itu menjadi dua hari terbaik selama berada di Indonesia," kata peserta International Youth Forum asal Belgia, Belkhatir Mohamed.

Tak hanya kunjungan kebudayaan, WCF 2016 diisi enam simposium dengan tema berbeda. Pada simposium pertama bertajuk Kebudayaan untuk Keberlanjutan Pedesaan. Pada simposium ini, bisa ditarik inti bahwa bila budaya pedesaan diabaikan dalam proses transformasi sosial menuju industrialisasi dan urbanisasi, maka populasi desa menghilang, agrikultur tidak berkelanjutan dan akan ada disparitas standar hidup.





Kemudian, pada simposium kedua bertajuk Air untuk kehidupan menghasilkan kesimpulan bahwa air adalah bagian penting dari pertumbuhan sosial dan pembangunan yang berkelanjutan. Air harus diperlakukan sebagai makhluk hidup lainnya. Bukan hanya komoditas.

Selanjutnya, simposium ketiga mengangkat tema Sejarah, Ruang Kota dan Gerakan menghasilkan kesimpulan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dijadikan alat untuk mengatakan budaya di perkotaan, bukan tentang monumen. Esensinya adalah kearifan lokal di dalamnya.

Simposium keempat bertema Mendigitalkan Budaya di Dunia Baru, mendapati kesimpulan yakni dunia harus mendorong melestarikan dan menjadikan budaya sebagai lini sektor pembangunan yang berkelanjutan dalam menghadapi konsekuensi perkembangan dunia digital.





Pada simposium kelima bertajuk Menyatukan Negara, Masyarakat, dan Budaya, menghasilkan buah pemikiran yakni dalam kebudayaan dari berbagai belahan dunia terdapat kekuatan tersembunyi yang membentuk masyarakat dan jadi pusat kehidupan bermasyarakat.

Dan, simposium keenam dengan judul Keberagaman Budaya untuk Pembangunan yang Bertanggung jawab membuahkan kesimpulan, keberagaman budaya bisa menunjang pembangunan yang tidak hanya berkelanjutan, tapi juga bertanggung jawab.

Kemeriahan perhelatan WCF 2016 tak hanya  simposium. Pada puncak acara, para peserta yang berasal dari puluhan negara tetangga hadir dalam karnaval kebudayaan yang diselenggarakan di Lapangan Puputan, Bali.

Decak kagum tak hentinya mengalir. Terlebih saat Indonesia mempertontonkan tari Kecak dan tari Sekar Jempiring yang berasal dari Bali. Pun atraksi Reog Ponorogo asal Jawa Timur, mampu menyihir peserta WCF 2016 yang terkesima dengan kebudayaan Indonesia.


(Foto:Metrotvnews.com/Lukman Diah Sari)

Tak sampai di situ, negara lain yang turut ikut dalam karnaval tersebut memperlihatkan kesenian kebudayaan masing-masing negaranya, seperti dari Kazakhstan, Polandia, Rusia, Italia, Uzbekistan, Thailand, dan Slovakia.

Pembukaan karnaval kebudayaan ditandai dengan ditembakannya anak panah Cakra Bhuwana Mandala Budaya oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.
Selain itu, deklarasi pun dilakukan yang dibacakan oleh perwakilan Filipina Suzie Moya Benitez.

"Pesan kuncinya adalah bahwa keberagaman adalah bagian dari kehidupan manusia dan kebudayaan harus bisa menjadi kekuatan kita bersama dalam menjalin persahabatan dunia," kata Hilmar.

Selain karnaval kebudayaan, pun terdapat pertunjukan kolaborasi seni 14 negara pada gala dinner WCF 2016, Rabu, 12 Oktober. Pertunjukan itu mengundang decak kagum penonton dan para delegasi. Tarian kolaborasi 14 negara digarap langsung oleh koreografer Indonesia, Bimo Wiwohatmo.

Bimo mengatakan, tema dalam tarian kolaborasi itu adalah Memayu hayuning bawono. "Memayu hayuning bawono adalah nilai luhur tentang kehidupan dan kebudayaan Jawa. Memiliki makna untuk memperindah dunia," kata Bimo.

Konsep tarian ini berasal dari tarian berbagai negara yang berkolaborasi. "Melalui pentas ini, ingin memunculkan bahwa melalui budaya dunia akan menjadi sempit. Melalui budaya dunia akan menjadi akrab. Melalui budaya ini dunia akan menjadi damai," ujar konseptor tarian Nyoman Cerita.

Yang tak kalah penting, pada WCF 2016 dilakukan deklarasi dengan menelurkan 10 komitmen yang bisa Anda baca di sini.





Selanjutnya, komitmen tersebut bakal dibakukan untuk diajukan kepada Perserikatan Bangsa Bansa(PBB) dengan tujuan agar kebudayaan menjadi lokomotif terdepan pembangunan.

"Deklarasi ini akan kita proses menuju ke PBB untuk diadopsi. Jadi betul-betul digabungkan untuk dunia," ujar Ketua Pelaksana Steering Comitee WCF 2016, Ananto Kusuma Seta.

Langkah lanjutan WCF 2016 bakal dimulai pada Januari 2017. Dia mengatakan, 10 komitmen yang dibacakan dalam bentuk deklarasi tersebut akan segera dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan kementerian dan delegasi dunia yang tergabung dalam WCF untuk merumuskan langkah yang lebih konkret.

"Salah satunya kita akan bekerja sama dengan para civil society, private company untuk sama-sama meletakkan kebudayaan sebagai garda terdepan, driver untuk pembangunan berkelanjutan. Intinya, letakkan kebudayaan yang selama ini di belakang untuk dijadikan lokomotif dari semua pembangunan umat manusia ke depan," bebernya.

Mengenai penyerahan deklarasi WCF 2016 ke PBB, tidak akan langsung diberikan. Melainkan akan dipercantik lebih dulu dari segi kebahasaan.

"Kita akan kirim ke UNESCO untuk jadi dokumen resmi. Dari UNESCO akan dikirim ke New York untuk jadi dokumen resmi PBB," ungkapnya.  

Ananto yang juga merupakan staf ahli Mendikbud, menargetkan, pengiriman deklarasi ke UNESCO itu bakal dilakukan paling cepat pada bulan berikutnya, November 2016. Dengan begitu, pada 2017 mendatang diharapkan PBB telah menerima dokumen resmi deklarasi WCF 2017.

Berawal dari deklarasi WCF 2016 itu, lanjut Ananto, pihaknya ingin agar kelak Indonesia menjadi promotor pembangunan berbasis kebudayaan. "Kita ingin memperkenalkan bahwa kebudayaan Indonesia yang akan jadi promotor untuk pembangunan masa depan," ujarnya.

Bukan hanya itu, para founding father Indonesia sejak awal telah menitipkan agar kebudayaan Indonesia bisa menjadi magnet pembangunan dalam era baru pembangunan berasaskan kebudayaan.

"Kenapa kita repot-repot mengadakan WCF? Karena ini perintah dari founding fathers, tujuan didirikannya Indonesa salah satunya ikut melaksanakan ketertiban dunia. Apa yang bisa dikontribusikan terhadap ketertiban dunia bahwa kebudayaan sebagai era baru pembangunan planet," kata Ananto.


(ROS)