Modernisasi Alutsista Polairud Wajib Tekan Angka Kejahatan

   •    Selasa, 04 Dec 2018 12:33 WIB
keamanan laut
Modernisasi Alutsista Polairud Wajib Tekan Angka Kejahatan
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan sambutan saat meresmikan armada baru Polairud di Makopolair Baharkam Mabes Polri, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (3/12/2018). Foto: Antara/Aprillio Akbar

Jakarta: Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendukung modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) di Korps Kepolisian Air dan Udara (Polairud). Ia berharap modernisasi itu memacu Polairud untuk terus menekan kejahatan di perairan maupun udara.

Politisi Partai NasDem ini mengingatkan modus yang dilakukan penjahat, terutama di perairan, sudah semakin canggih. Mereka sudah memanfaatkan teknologi komunikasi dan melibatkan nelayan tradisional. Banyaknya jalur tikus di sepanjang pantai Indonesia juga menjadi kendala dalam hal pengawasan. 

“Saya berharap dengan penambahan armada, Polairud semakin maksimal menjaga keamanan. Sehingga, penyelundupan baik ke dalam maupun ke luar negara dapat terus ditekan,” kata Sahroni, melalui pesan elektronik, Selasa, 4 Desember 2018.

Ia juga mengingatkan pentingnya sinergisitas antar-stakeholder di perairan, yakni Polairud, Bakamla, TNI Al, dan Bea Cukai.

“Di samping illegal fishing, illegal logging, penyelundupan berbagai hasil laut, bahan bakar ilegal, dan TKI ilegal, Polairud juga harus mewaspadai penyelundupan narkoba dan senjata. Pesan Kapolri mengenai pemberdayaan nelayan untuk membantu pengawasan harus benar-benar dijalankan,” kata dia.

Polairud meresmikan alutsista baru berupa satu unit kapal patroli lepas pantai, lima unit kapal patroli cepat, 15 unit kapal pemburu cepat, satu pesawat CN, dan satu helikopter Bell, kemarin. Peresmian dilakukan seiring perayaan ulang tahun ke-68 Polairud di Pangkalan Polairud Korpolairud Baharkam Polri, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian berharap armada baru bisa menekan kejahatan di wilayah perbatasan Indonesia. Menurutnya, kehadiran tambahan armada sangat diperlukan untuk mendukung mobilitas Polairud.

"Korps Polairud bisa survive selama 68 tahun. Jangan hanya bertahan, tapi juga harus bermanfaat bagi masyarakat. Polairud  harus berperan membantu memberantas illegal fishing, people smuggling, penyelundupan, human trafficking, serta kejahatan umum konvensional seperti perompakan," ujar Tito.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini mengungkapkan Polairud memiliki keunggulan dari segi peralatan dan alutsista untuk menjangkau wilayah NKRI. Menurutnya, penyelundupan senjata, terutama di garis pantai timur pulau Sumatera dan Sulawesi, menjadi tantangan bagi Polairud.

“Perlu memberdayakan masyarakat bahari (nelayan) untuk mencegah hal itu," jelas Tito sekaligus mengamanatkan Polairud menjaga konservasi biota laut perairan Indonesia.

Korps Polairud Baharkam Polri sepanjang 2018 telah mengungkap sebanyak 952 kasus. Illegal fishing atau penangkapan ikan secara ilegal paling banyak ditangani dengan jumlah 376 kasus. 

Kakorpolairud Baharkam Polri Brigjen M Lotharia Latif menjabarkan dari 952 kasus, sebanyak 152 kasus ditangani Polri dan sisanya yaitu 800 kasus ditangani jajaran Polda. Total kerugian negara yang bisa diselamatkan dari kejahatan di perairan periode Januari hingga November 2018 senilai Rp29 miliar.





(UWA)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA