Revitalisasi SMK Butuh Perbaikan agar Sesuai Zaman

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 05 Dec 2018 19:41 WIB
Revitalisasi SMK
Revitalisasi SMK Butuh Perbaikan agar Sesuai Zaman
Siswa jurusan Teknik Las melakukan praktikum pengelasan plat besi di SMK N 1 Sayung di Demak, Jawa Tengah, ANT/Aji Styawan.

Jakarta: Kebijakan revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah diluncurkan pemerintah sejak 2016 perlu perbaikan dan penajaman.  Langkah tersebut penting, agar arah revitalisasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Pemerintah menekankan pentingnya revitalisasi SMK guna mendukung kebutuhan industri dan menyokong perekonomian nasional. Apalagi saat ini masih banyak lulusan SMK yang menjadi pengangguran, disebabkan oleh mismatch antara kualitas lulusan SMK dengan kebutuhan industri. 

Survei Angkatan Kerja Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 mencatat dari 6,8 juta jumlah pengangguran, 20,7 persen atau 1,4 juta orang di antaranya berasal dari lulusan SMK. Jumlah ini cukup besar mengingat lulusan SMK sebenarnya disiapkan untuk dapat terjun langsung ke dunia industri. 

"Untuk itu, Presiden telah mengeluarkan Inpres 9/2016 tentang Revitalisasi SMK, namun kebijakan ini harus terus diperbaiki sesuai dengan perkembangan perekonomian nasional," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Rabu 5 Desember 2018.

Kemenko Perekonomian bersama Kemendikbud dan lembaga terkait lainnya telah menyusun Peta Jalan Kebijakan Pengembangan Vokasi di Indonesia 2017-2025. Roadmap ini bukan hanya berfokus pada SMK, tetapi juga Politeknik dan Balai Latihan Kerja (BLK), serta turut melibatkan peran industri.

Baca: Dosen Politeknik Wajib Kantongi Sertifikat Kompetensi

Dirinya menambahkan, terdapat empat perkembangan tren global terkait SDM di era industri 4.0 yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan vokasi, utamanya SMK. Tren pertama, munculnya teknologi digital yang memungkinkan orang dapat bekerja di mana saja. 

"Tren kedua, peran Long Life Learning. Dengan kemajuan digital, pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di sekolah formal saja dan memungkinkan akses pendidikan ke seluruh pelosok Indonesia," ungkapnya.

Tren ketiga, penggunaan media sosial yang banyak memunculkan talenta secara global tidak peduli seberapa jauh lokasinya. Tren keempat, manajemen kinerja berbasis analisis data. Maksudnya, kinerja seseorang tidak lagi diukur berdasarkan jumlah jam kerja, tetapi berdasarkan produktivitas mereka.

Guna menghadapi persoalan tersebut, revitalisasi SMK secara menyeluruh harus segera dilakukan. Dimulai dari perbaikan kurikulum SMK yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan, termasuk sertifikasi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

"Kemudian program pemagangan di industri untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas siswa, Training of Trainers Guru, hingga memperbaiki sistem seleksi yang sesuai keahlian dan meningkatkan minat calon siswa menjadi siswa SMK," pungkasnya.


(CEU)