LPTK Dituntut Perbanyak Guru Produktif

Lulusan Nonpendidikan Boleh Ikut Pendidikan Profesi Guru

Intan Yunelia    •    Jumat, 09 Nov 2018 20:14 WIB
Lulusan SMK
Lulusan Nonpendidikan Boleh Ikut Pendidikan Profesi Guru
Seorang guru sedang mengajar di dalam kelas, MI/Bary Fathahilah.

Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir membuka pintu bagi lulusan nonpendidikan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).  Kebijakan ini diambil mengingat keterbatasan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mencetak guru-guru produktif.

Nasir mencontohkan, saat ini LPTK belum mampu mencetak guru-guru di bidang kelautan, pariwisata dan perikanan. Padahal, bidang itu yang paling diminta di dunia kerja. 

“Karena prodi itu belum ada (di LPTK),” terang Nasir kepada wartawan usai Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama Dalam Rangka Membangun Kesadaran Pajak Melalui Pendidikan untuk Masa Depan Bangsa yang Mandiri dan Sejahtera, di Gedung Mari’e Muhammad, kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat, 9 November 2018.

Saat ini, kampus yang sudah ada prodi Kelautan dan perikanan adalah perguruan tinggi nonLPTK.   Untuk itu, Nasir tengah memasukkan Pendidikan profesi Guru (PPG) di LPTK boleh berasal dari  dari nonpendidikan.

“Contoh insinyur bisa, ahli perikanan bisa. Yang dulu enggak pernah ada ini sudah saya masukkan. Ini multi entry untuk masuk pada PPG,” terangnya. 

Baca: Mendikbud: Pengangguran Bukan Produk Revitalisasi SMK

Untuk diketahui, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mencetak guru produktif. Pasalnya, saat ini jumlah guru produktif di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) masih minim.

“LPTK sekarang kami dorong untuk meningkatan guru produktif,” kata Nasir.

Saat ini, Nasir memoratorium perekrutan guru SMK nonproduktif. Di sisi lain ia mendorong LPTK merekrut guru produktif lebih banyak.

“Nonproduktif itu seperti guru bimbingan dan konseling, itu yang harus kita kurangi,” ujar Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.


(CEU)