Dua Orang Tewas saat Arung Jeram di Sungai Serayu

Nur Azizah    •    Senin, 12 Mar 2018 07:21 WIB
kecelakaan
Dua Orang Tewas saat Arung Jeram di Sungai Serayu
Ilustrasi/MTVN

Jakarta: Sebanyak dua orang dikabarkan meninggal dunia usai mengikuti kegiatan arung jeram di Sungai Serayu, Desa Singamerta, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sementara lima lainnya mengalami luka-luka.

Dua korban meninggal atas nama Kohar Mutalim (54), guru SMPN 2 Kroya, dan Ahmad Prihantoro (25), warga Desa Kutayasa RT 01 RW 01, Kecamatan Madukara, Banjarnegara. Ahmad merupakan pemandu arung jeram.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Arief Rahman mengatakan kejadian tersebut bermula saat rombongan karyawan dan guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kroya melaksanakan arung jeram. Titik awal kegiatan itu dari Desa Prigi.

Kegiatan diikuti 54 orang. Mereka dibagi dalam sembilan perahu masing-masing terdiri atas lima hingga enam orang. Masing-masing kelompok didampingi seorang pemandu serta tim penolong.

Sesampainya di jeram besar, pertemuan Kali Tulis dan Sungai Serayu, perahu yang ditumpangi korban terbalik. Petugas pun berusaha menyelamatkan para penumpang ke tepi sungai.

Tim penolong berhasil menyelamatkan lima penumpang sedangkan dua lainnya, Ahmad Prihantoro dan Kohar Mutalim terbawa arus hingga mendekati bendungan Singamerta.

"Setelah itu perahu menabrak dinding sungai dan korban terjatuh," kata Arief seperti dilansir Antara, Senin, 12 Maret 2018.

Salah seorang korban, Ahmad Prihantoro, berusaha menarik Kohar Mutalim ke arah utara karena sudah dekat dengan pintu bendungan Singamerta. Namun, mereka justru terhisap pusaran arus dan masuk ke pintu air.

Kohar Mutalim ditemukan di saluran irigasi Desa Singamerta dan Ahmad Prihantoro ditemukan di tepi Sungai Serayu. Keduanya langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.

Sesampainya di RSUD Hj. Anna Lasmanah, kedua korban dinyatakan meninggal. Arief menyampaikan kecelakaan tersebut baru pertama kali terjadi.

Namun, dia menyayangkan pemberitaan yang menyebutkan kejadian tersebut disebabkan kurangnya faktor keamanan dan keselamatan. "Kejadian ini lebih karena musibah. Teman-teman operator arung jeram telah melaksanakan standar pperasional prosedur (SOP) dengan benar karena SOP dalam kegiatan arung jeram sangat ketat," ucap dia.


(OJE)