Dua Tahun Melawan Rasa Sakit akibat Bom Thamrin

Marcheilla Ariesta    •    Minggu, 14 Jan 2018 13:13 WIB
terorismeserangan bomledakan di sarinah
Dua Tahun Melawan Rasa Sakit akibat Bom Thamrin
Agus Kurniawan (kanan) saat peringatan dua tahun bom Thamrin. Foto: Medcom.id/Marcheila Ariesta.

Jakarta: Rasa sakit akibat teror bom Thamrin belum hilang dari tubuh Agus Kurniawan. Derita dari aksi teror itu masih dia rasakan walau peristiwa itu terjadi dua tahun lalu. 

"Saya waktu bom meledak, ada di dekat pelaku. Saya salah satu yang beruntung karena masih hidup karena terhalang tembok (pos polisi). Dan saat itu, telinga saya yang kena," kata Agus kepada Medcom.id, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu, 14 Januari 2018.

Kendati selamat, Agus merasa kesehatannya memburuk setelah insiden bom Thamrin. Dia mengaku awalnya hanya merasa sakit di telinga. Namun, pada awal 2018, dia sempat tak sadarkan diri dan dibawa ke Rumah Sakit Islam Jakarta.

"Dokter mendiagnosa penyakit itu mulai menyebar ke otak saya dan leher," cerita dia.

Agus yang menggunakan penyanggah leher menuturkan saraf otaknya mengalami kerusakan dan berpengaruh ke otot leher. Setelah mendapat perawatan intensif, dia pun harus menjalani perawatan jalan untuk mengobati penyakitnya. 

"Saya kurang mengerti medis, tetapi saya dari dokter saya disarankan memakai ini (penyanggah leher). Tidak selalu saya pakai, tetapi kalau kegiatan di luar seperti ini, saya selalu pakai. Pernah saya bandel, akibatnya saya tidak sadarkan diri lagi," tutur dia.

Menurut dia, dokter yang merawatnya menganjurkannya untuk pindah kerja. Pasalnya, dia tidak boleh terlalu capai atau terlalu banyak menggunakan fisik.

Setiap enam bulan sekali, dia mendapat bantuan untuk rawat jalan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Rekomendasi sang dokter untuk bekerja tanpa terlalu memforsir fisiknya pun diberikan ke LPSK.

"Selama ini mereka membantu saya dan korban lainnya," lanjut dia.

Agus mengharapkan dana kompensasi dari pemerintah bisa segera diberikan kepada korban. Pasalnya, dengan kesehatan semakin menurun, dia berharap memiliki pegangan dana untuk berobat.

Hal senada juga dirasakan Frank, warga Jerman yang menjadi korban Bom Thamrin. Saat kejadian, dia mengalami luka bakar di bagian lengan dan kaki kanan. 

"Kemudian membran telinga saya juga pecah. Dua jari saya hampir putus," cerita dua.

Baca: Dua Tahun Teror Bom Thamrin

Frank mengatakan seharusnya dia mendapat ganti dana dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk biaya pengobatannya. Namun, hal ini masih belum diterimanya.

"Saya waktu pertama kali terluka memang biaya rumah sakit ditanggung Pemprov DKI. Saat rawat jalan, harusnya mendapat ganti dana. Namun belum (terima). Mungkin sedang diurus," jelas dia.

Teror bom bunuh diri disertai penembakan terjadi di kawasan MH Thamrin pada 14 Januari 2016. Aksi yang dilakukan empat pelaku, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif, dan Ahmad Muhazan, itu menewaskan delapan orang dan 25 lainnya terluka.

Memperingati tragedi tersebut, para korban dan keluarganya menggelar aksi damai. Mereka menuntut pemerintah untuk segera memenuhi hak-hak korban, salah satunya hak kompensasi.





(OGI)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

4 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA