Viostin DS dan Enzyplex tak Tersertifikasi Halal

Intan Yunelia    •    Senin, 05 Feb 2018 15:54 WIB
izin edar obat
Viostin DS dan Enzyplex tak Tersertifikasi Halal
Ilustrasi: Obat-obatan. Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal.

Jakarta: Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menyebut produk Viostin DS dan Enzyplex tak tersertifikasi halal. Kedua produk tersebut positif mengandung DNA babi.

Namun, Direktur Pelaksana LPPOM MUI Lukmanul Hakim mengaku pihaknya tak berwenang untuk mengawasi produk bersertifikat halal dan tidak halal. Masalah ini menjadi tugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Kami menganalisis laboratorium untuk kepentingan data awal kandungan dan dijadikan dasar badan POM untuk di izin edar,” kata Lukmanul Hakim saat konferensi pers di Kantor BPOM, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018.

Menurut dia, LPPOM MUI fokus dalam lingkup pangan. LPPOM MUI dan BPOM pun akan bekerja sama tidak hanya dalam pangan, tetapi juga obat-obatan dan kosmetik.

"Kami bersepakat pertemuan ini sebagai penguatan dalam lingkup obat dan kosmetik,” ungkap Lukmanul.

Viostin DS diproduksi PT Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD 051523771 dan nomor bets BH C6K994H. Sementara itu, Enzyplex tablet diproduksi oleh PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 dan nomor bets 16185101.

Baca: DPR Diminta Prioritaskan RUU POM

BPOM resmi mencabut izin produk Viostin DS dan Enzyplex. Dua produk itu dianggap tidak konsisten dalam informasi data premarket dengan hasil pengawasan post-market.

Hasil pengujian post-market menunjukkan kedua produk positif mengandung DNA babi. Sementara itu, data yang diserahkan dan lulus evaluasi BPOM pada saat pendaftaran produk premarket menggunakan bahan baku dari sapi.

BPOM telah memberikan sanksi peringatan keras kepada PT Pharos Indonesia dan PT Medifarma Laboratories sebagai produsen. Mereka diperintahkan untuk menarik produk itu dari peredaran serta menghentikan proses produksi.



(OGI)