Literasi Digital Bukan Sekadar Pengadaan Komputer

Banyak Negara Gagal Terapkan Literasi Digital

Intan Yunelia    •    Kamis, 11 Oct 2018 20:18 WIB
Literasi Digital
Banyak Negara Gagal Terapkan Literasi Digital
Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta, Medcom.id/Intan Yuneliia.

Jakarta:  Penguasaan generasi muda terhadap literasi digital adalah sebuah keniscayaan.  Namun upaya menerapkan literasi digital bisa gagal total, jika salah memaknainya. 

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta mengatakan, setiap anak harus menguasai literasi digital.  Salah satunya karena mereka hidup di dunia digital.  

Untuk itu, penguatan akan literasi digital juga mutlak dilakukan, tidak hanya terhadap para siswa, namun juga guru.  Guru harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mengingat peserta didiknya adalah generasi asli penghuni era digital.  

Di mana digitalisasi bagaikan oksigen bagi anak-anak zaman now.  "Harus menguasai literasi digital, sebab guru itulah yang harus mendidikkan literasi digital kepada siswanya," kata Ananto, di sela-sela Seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018.

Untuk itu, setiap tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah harus memahami apa makna literasi digital yang sebenarnya.  Ananto mengatakan, banyak negara gagal menerapkan literasi digital kepada generasi mudanya, salah satunya karena keliru memberi makna hal tersebut.

"California, Meksiko keduanya gagal total literasi digitalnya," kata Ananto.

Baca: UB Kembangkan Pendeteksi Bencana Berbasis Android

Kebanyakan pihak memaknai literasi digital hanya sebatas mata pelajaran komputer.  Atau lebih buruk lagi, literasi digital dimaknai dengan berlomba-lomba melakukan pengadaan komputer.

"One children one tablet atau notebook, bukan, bukan itu," tegas Ananto.

Ananto menegaskan, revolusi industri 4.0 dan literasi digital lebih menekankan kepada budaya berteknologi. "Soft skills, emotional intelligence, social intelligence, empathy, critical thinking, dan kolaborasi, itu yang mendasari ke depan," terangnya.

Sebab bagaimanapun juga, revolusi industri 4.0 sebentar lagi akan berganti.  Zaman akan selalu berubah. "Yang tidak berubah itu values, jadi itulah yang harus ditanamkan pada anak-anak kita.  Jangan sampai menghasilkan lulusan yang nanti akan bertanding dengan robot. Harus jadi lulusan yang human," tegas Ananto.
(CEU)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

5 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA