Hoaks, Antara Misinformasi dan Disinformasi

   •    Rabu, 10 Oct 2018 10:07 WIB
hoax
Hoaks, Antara Misinformasi dan Disinformasi
Ilustrasi. (Foto: AFP/ Manjunath Kiran)

Jakarta: Kekuatan media sosial tak jarang digunakan sebagai senjata menyebarkan berita bohong atau hoaks dengan tujuan tertentu. Di beberapa negara, hoaks bahkan berhasil menjadi jembatan perubahan dengan ekses negatif.

Penelitian yang dilakukan Institut Teknologi Massachusetts pada Maret lalu menyebut berita bohong memiliki kemungkinan di-retweet sebesar 70 persen dibandingkan berita benar. Hoaks juga mampu menjangkau sedikitnya 1.500 orang dan enam kali lebih cepat penyebarannya ketimbang berita benar.

Berdasarkan riset Media Research Center (MRC) hoaks dibagi menjadi dua kelompok besar; misinformasi dan disinformasi. Jika misinformasi berupa penyebaran informasi yang keliru tanpa maksud tertentu, disinformasi dibuat untuk menyetir pembaca dan penerima pesan.

Contoh paling nyata berdampak sistemik akibat hoaks yang berasal dari disinformasi pernah terjadi di Mesir. Pada 2011, Mesir diguncang gelombang demonstrasi yang dilakukan massa properubahan berhadapan dengan kelompok pro-Hosni Mubarak, Presiden Mesir yang saat itu berkuasa.

Berita bohong terkait Hosni yang disebarkan melalui dua platform media sosial terbesar, Facebook dan Twitter, saat itu ampuh menggulingkan Hosni dari kursi kekuasaan. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana informasi dan komunikasi berubah menjadi medium perubahan yang sangat kuat.

Amerika Serikat juga mengalami hal serupa saat Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016. Pilpres di Negeri Paman Sam itu disebut-sebut sarat intervensi Rusia untuk memenangkan Donald Trump.

Rusia melakukan serangan siber berupa hoaks hingga dituduh meretas surel pribadi Hillary Clinton yang menjadi rival Trump. Rusia bahkan dituding ikut andil dalam kemenangan Trump.

Berdasarkan penyelidikan Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat, sedikitnya ditemukan 470 akun Facebook palsu yang berada di bawah koordinasi Rusia. Dari media sosial Twitter juga ditemukan 22 akun yang merupakan bagian dari 470 akun tersebut. Dugaan lainnya, ada lebih dari 179 akun Twitter palsu yang dikendalikan Rusia untuk memengaruhi pemilih yang akan memberikan suaranya dalam Pilpres Amerika Serikat.




(MEL)