Obituarium Derek Manangka

Wartawan Harus Gunakan Otak dan Dengkul

Abdul Kohar    •    Minggu, 27 May 2018 00:18 WIB
obituari
Wartawan Harus Gunakan Otak dan Dengkul
Derek Manangka (tengah) saat proses penyusunan buku biografi Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (kanan). Foto: Dok. Pribadi/MI

KABAR duka itu mampir ke gawai saya melalui pesan whatsapp dari seorang teman, saat matahari naik setinggi lebih dari sepenggalah, Sabtu, 26 Mei 2018. Isinya: Jurnalis senior Derek Manangka berpulang karena penyakit jantung.

Sebagai jurnalis yang pernah 'disentuhnya', saya agak kaget mendengar kabar duka itu. Empat hari sebelum kabar kepulangannya itu, Bung Derek masih aktif menulis Catatan Tengah di linimasa tentang silaturahmi anak Presiden RI dari empat periode pemerintahan yang berbeda.

Tapi, begitu kisah klise tentang kematian: Kerap tiba-tiba, tak terduga, dan seperti 'menyelinap' dalam gelap. Kehilangan seorang Derek Manangka, bagi dunia jurnalistik suatu kehilangan yang terasa.

Ia meneguhkan pepatah, 'Kehadirannya menggenapkan, kepergiannya mengganjilkan'.

Saya bersentuhan dengan Bung Derek tidak terlalu lama. Hanya delapan bulan: Dari September 1998 hingga April 1999. Saat itu, Bung Derek Pemimpin Redaksi Tabloid Realitas, sebuah tabloid yang diterbitkan Media Indonesia, dan saya salah satu reporternya. 

Kendati singkat, saya langsung bisa merasakan 'tangan keras' Bung Derek. Kepada para junior, Bung Derek langsung 'meneror' dengan kata-kata tempaan, bahkan saat di hari pertama kami memasuki kelas pendidikan. 

Kata Bung Derek, "Wartawan itu tidak ada hari libur dan tidak ada istilah sakit sebelum diinfus." Ia mengatakannya tanpa maksud bercanda. Ia serius. Sangat serius.

Bung Derek ingin mewariskan militansi sebagai jurnalis persis era dia menjadi wartawan junior di akhir tahun 70-an hingga awal 80-an. Ia kerap bercerita pula bagaimana harian Prioritas menempanya menjadi jurnalis investigasi yang 'tidak sempat cengeng'.

Sebagai anak didiknya, saya pernah merasakan persinggungan paling keras dengannya. Itu terjadi saat saya ditugasi oleh redaktur untuk mewawancarai almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) demi menggali pendapatnya tentang kehadiran Partai Masyumi Baru besutan Ridwan Saidi.

Saya melaksanakan tugas reportase itu dengan tuntas dan baik, menurut ukuran saya tentunya. Transkrip dan laporan wawancara dengan Cak Nur soal tersebut lalu saya serahkan ke redaktur untuk di-print awal dan di-preview oleh Bung Derek sebelum naik cetak.

Apa yang terjadi saat naskah sampai ke meja Bung Derek dan dibacanya sungguh di luar prediksi saya. Ia marah besar dan memanggil saya untuk menghadap.

"Kenapa kamu mengecilkan wawancara Cak Nur dan membesarkan pembahasan Ridwan Saidi dan partainya? Kamu enggak tahu Cak Nur tokoh besar? Kenapa kamu hanya mewawancarai soal ini? Mestinya dia bisa dimintai pandangan tentang reformasi dan arah demokrasi kita," bentak Bung Derek sambil mengacungkan telunjuknya ke arah muka saya.

Saya menjawab, "Saya cuma ditugaskan oleh redaktur untuk mewawancarai Cak Nur soal pandangan dia tentang Partai Masyumi Baru bentukan Ridwan Saidi. Itu saja, Pak."

Dengan nada suara yang kian meninggi, Bung Derek berseru, "Tapi kan kamu punya otak? Atau kamu tipe wartawan yang hanya mengandalkan dengkul?"

"Ingat ya, wartawan itu harus bekerja dengan dengkul dan otak. Apa saya yang harus mewawancarai Cak Nur? Saya tidak mau tahu, dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sudah ada wawancara dengan Cak Nur yang komprehensif di meja saya!" Bung Derek melanjutkan.

Di kesempatan lain, Bung Derek menugasi kami mengorek keterangan dari tokoh-tokoh intelijen di Republik ini ihwal kondisi bangsa hari ini dan prediksinya di hari depan. "Saya tidak mau tahu bagaimana cara kalian mengorek, yang penting paling lama tiga hari dari sekarang sudah dapat keterangan dari mereka semua," pesan dia.

Amat jelas, Bung Derek hendak mendidik kami untuk memasuki dunia jurnalistik secara kafah, menyeluruh, tidak setengah-setengah. Kami harus memeras otak sembari memaksimalkan 'dengkul'. Kami dididik untuk kuat, cekatan, tapi juga cerdas. Berkali-kali Bung Derek menyeru: "Jangan cengeng! Jangan cengeng! Jadilah petarung, bukan pemurung."

Kini, Sang Penyeru itu telah berpulang, mewariskan seruan militansi kepada wartawan, menancapkan disiplin verifikasi, yang hari-hari ini kerap dikeluhkan. Selamat jalan Bung Derek, selamat beristirahat dalam damai.


(AZF)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

22 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA