Satgas Diberi Waktu 45 Hari Menilai Metode DSA

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 13 Apr 2018 16:00 WIB
berita dpr
Satgas Diberi Waktu 45 Hari Menilai Metode DSA
Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf (Foto:Dok.DPR)

Jakarta: Komisi IX DPR RI memberikan tenggat waktu 45 hari kepada satuan tugas (satgas) untuk memberikan penilaian atas teknologi kesehatan metode Digital Substraction Angiogram (DSA) atau terapi cuci otak. 

Satgas terdiri atas Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). 

Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf menyampaikan pembentukan satgas ini pun atas kesepakatan bersama dengan Kemenkes. Pihak Kemenkes pun menyanggupi permintaan tersebut.

“Ya tenggatnya 45 hari. Mereka (Kemenkes) minta waktu,” ucap Dede, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id, Jumat, 13 April 2018.

Politisi Demokrat itu menyebutkan, alasan pihaknya memberikan tenggat waktu 45 hari karena butuh pendalaman untuk menilai suatu metode kesehatan. “Jadi enggak bisa besok langsung diputuskan, enggak bisa,” ujar Dede.

Dia berharap Satgas bisa memanfaatkan waktu yang diberikan. Dengan begitu, Satgas akan mampu memberikan penilaian yang tepat kepada masyarakat terkait polemik terapi cuci otak yang mencuri perhatian beberapa waktu terakhir.

Seperti diketahui, polemik terapi cuci otak mengemuka setelah bocornya surat keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Surat tersebut pun menjadi sumber konflik antara IDI dengan kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Mayjen TNI Dr.dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) sebagai penemu terapi cuci otak.

Di sisi lain, Ketua Umum PB IDI Prof dr Ilham Oetama Marsis Sp.OG juga menyampaikan penyesalan atas tersebarnya surat keputusan MKEK yang bersifat internal dan rahasia sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. PB IDI juga menjelaskan keputusan MKEK bersifat final untuk proses selanjutnya direkomendasikan kepada PB lDl. 

Selain itu, PB IDI juga menyampaikan keputusan penundaan pelaksanaan putusan sesuai rekomendasi MKEK kepada dr Terawan untuk memberikan sanksi pemecatan sementara dan pencabutan izin praktik. IDI menegaskan sampai saat ini dr Terawan tetap menjadi anggota IDI dan masih dapat berpraktik sebagaimana biasanya.


(ROS)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA