Lulusan SMK Didorong Berwirausaha

Hanya 60% Lulusan SMK Terserap Industri Tiap Tahun

Citra Larasati    •    Selasa, 06 Nov 2018 18:34 WIB
Lulusan SMK
Hanya 60% Lulusan SMK Terserap Industri Tiap Tahun
Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud, M Bakrun menyematkan tanda uji kompetensi kepada siswa dan siswi SMK 5 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, MI/Denny S. Ainan.

Jakarta:  Hanya sekitar 60-65% lulusan SMK yang terserap dunia industri setiap tahunnya. Untuk menekan tingginya potensi angka pengangguran terbuka, lulusan SMK didorong menjadi wirausahawan muda.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong lebih banyak lagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi wirausahawan muda di 2019.  Langkah tersebut merupakan salah satu cara yang ditempuh, untuk menguragi jumlah pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan SMK.

"Kami canangkan untuk mencetak wirausahawan muda, meskipun ini tak mudah," ungkap Direktur Pembinaan SMK, Kemendikbud, Muhammad Bakrun kepada Medcom.id, di Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

Sasaran Kemendikbud, kata Bakrun, akan ada 100 ribu lulusan SMK di 2019 yang menjadi wirausahawan muda baru.  "Sekitar 7% dari jumlah lulusan tahun 2019 didorong jadi wirausahawan muda," terang Bakrun.

Baca: Peralatan Praktikum SMK Jauh di Bawah Standar Industri

Selama ini, kata Bakrun, pihaknya terus berusaha melakukan penelusuran untuk melacak lulusan SMK di seluruh Indonesia.  Meski belum ada data detail, namun secara umum tergambar 60-65% lulusan saja yang terserap di industri.  Kemudian 13% lulusan melanjutkan kuliah, dan 5% wirausaha.

"Sisanya tidak terlacak," ungkap Bakrun.

Namun pada sekolah yang akreditasinya baik seperti A, angka lulusan yang terserap di industri juga lebih tinggi, yakni mencapai 80% lulusan.  "15%-nya melanjutkan kuliah, dan sekitar 5%-nya berwirausaha" ungkap Bakrun.
?
Bakrun juga mengakui, terbatasnya lulusan SMK yang terserap di industri salah satunya karena keterbatasan infrastruktur dan sarana prasarana terutama untuk praktikum di SMK.  Alat-alat praktikum sangat mahal, sementara perkembangan peralatan di industri terus berkembang.

"Iya, salah satunya itu. Sulit mengejar standar peralatan praktik di SMK dengan yang sesuai dengan dipakai di industri," ujar Bakrun.

Baca: Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur

Untuk mengatasi kendala ini, Bakrun telah mendorong SMK bekerja sama dengan industri dalam bentuk praktik kerja lapangan yang lebih lama. "Praktik kerja lapangan sekarang lebih lama, sekitar enam bulan. Bisa juga dengan mendatangkan guru tamu dan praktisi industri untuk mempersempit kesenjangan antara akademik dan industri tersebut," papar Bakrun.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi berdasarkan pendidikan, masih berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yakni sebesar 11,24%.  Tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43% berasal dari penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.


(CEU)