Menaker Minta Industri Indonesia Siapkan Skema Transformasi Bisnis

Achmad Zulfikar Fazli    •    Rabu, 11 Oct 2017 16:06 WIB
kemenaker
Menaker Minta Industri Indonesia Siapkan Skema Transformasi Bisnis
Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri. Foto: MTVN/Fikar

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah meminta industri di Indonesia menyiapkan skema transformasi industri dari model lama ke model baru, khususnya industri yang dipengaruhi perkembangan teknologi informasi. Transformasi ini dinilai penting karena adanya economic disruption.
 
"Dengan skema transformasi itu, industri kita akan lebih kompetitif, dan dari sisi ketenagakerjaan bisa segera diantisipasi dampak-dampaknya," kata Menaker Hanif Dhakiri dalam acara Musyawarah Nasional Serikat Pekerja Bank Negara Indonesia (SP-BNI) di Bandung, Jawa Barat, Rabu 11 Oktober 2017.
 
Menurut Hanif, kelambatan industri mengantisipasi perkembangan bisa menimbulkan industrial shock (goncangan industrial). Itu mencakup goncangan bisnis (business shock) dan goncangan tenaga kerja (manpower shock).

Baca: Perlu Percepatan Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja

Ia menyebut goncangan bisnis bisa membuat industri terbunuh karena kalah bersaing. Sedangkan, goncangan tenaga kerja bisa terjadi karena pemutusan hubungan kerja (PHK) mendadak akibat digitalisasi dan otomatisasi.
 
Dengan transformasi industri, Hanif yakin perubahan akan berlangsung secara bertahap dan antisipasinya bisa dilakukan semua pihak, baik pemerintah, industri maupun para pekerja. Hanif meminta serikat pekerja dilibatkan mengawal transformasi industri menuju model bisnis yang lebih baik.
 
"Dirembug saja ini industri mau kemana seiring perkembangan teknologi informasi yang masif dan persaingan yang makin sengit. Tahapan transformasinya seperti apa, dampaknya terhadap tenaga kerja gimana, lalu apa solusinya, dan seterusnya," ujar dia.
 
Politikus PKB itu mengatakan, pemerintah pun terus mendorong kerja sama dengan industri dan serikat pekerja dalam merespons perkembangan ekonomi global. "Ini memang tugas bersama. Tak hanya pemerintah, tapi juga dunia usaha dan serikat pekerja. Semua harus terlibat aktif dan mencari pendekatan yang win-win. Tanpa itu masalah ketenagakerjaan kita akan mandeg," ujarnya.

Baca: Kemenaker Maksimalkan Pelatihan Berbasis Kompetensi di BLK

Hanif mengaku khawatir dengan perkembangan teknologi informasi yang menggerus pekerjaan lama. Dari sisi kesempatan kerja, kata dia, kebutuhan meningkatkan jumlah dan kualitas sumber daya manusia (SDM) semakin mendesak.
 
Menurut dia, jika model bisnis industri berubah, karakter pekerjaan berubah, skill yang dibutuhkan juga berubah. Input SDM baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan kerja juga harus berubah.
 
Dari sisi perlindungan tenaga kerja, hubungan kerja dalam industri dengan model bisnis yang baru harus diperjelas. "Jangan sampai tenaga kerja didzolimi dengan model hubungan yang absurd dan merugikan mereka," ujarnya.




(FZN)