Pemilih Emosional Tidak Bisa Dilepaskan dari Pemilu

Damar Iradat    •    Rabu, 30 Nov 2016 07:06 WIB
pilkada dki 2017
Pemilih Emosional Tidak Bisa Dilepaskan dari Pemilu
Analis Psikologi Politik, Irvan Aulia. Foto: MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 terpecah menjadi dua golongan; pemilih emosional dan pemilih rasional. Pemilih yang mengedepankan emosional, saat ini dinilai cukup tinggi.

Analis Psikologi Politik, Irfan Aulia mengatakan, pada kenyataannya, pemilih yang mengedepankan emosional pasti akan terus ada di setiap pemilu. Sebab, para pemilih emosional memilih dipandu oleh alam bawah sadar mereka, simbol-simbol yang lekat di pikiran mereka.

"Mau tidak mau, kenyataannya seperti itu," ujar Irfan dalam dialog Prime Time News di Metro TV, Selasa (29/11/2016).

Tingkat elektabilitas calon petahana Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat saat ini harus menerima kenyataan itu. Musababnya, kasus dugaan penistaan agama cukup menjegal jalan keduanya untuk kembali memimpin Ibu Kota.

Irfan mengatakan, kasus yang menyeret Ahok ini, ibarat musik. Ahok, kata dia, ibaratnya tengah memainkan nada yang kurang tepat, sehingga, masyarakat tersentak, dan mengalihkan pilihannya.

"Ini menyebabkan, ketika ada survei pada momentum ini, suka tidak suka atau mau tidak mau, kita lihat ada peralihan," papar dia.

Sementara itu, pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya juga mengakui, pemilih yang mengedepankan emosional tidak dapat dipungkiri begitu saja. Tim sukses Ahok-Djarot, harus memerhatikan hal ini.

"Itu lah realitas, tapi harus diterima oleh Ahok bahwa tidak semua pemilih rasional," tegas dia.

Toto, sapaan Yunarto, mengatakan, di Amerika Serikat saja, faktor primordial itu masih diterima. Harus diingat dan dipelajari, bahwa pemilih independen tidak berdiri sendiri.

Mereka, para pemilih emosional, kata Toto, akan bergantung pada isu besar apa yang mengelilingi mereka. Isu dugaan penistaan agama ini harus diakui jadi salah satu faktor yang paling memengaruhi para pemilih rasional.

Kemarin, lembaga survei Charta Politika menempatkan pasangan Agus-Sylvi pada posisi pertama dengan presentase 29,5 persen. Posisi kedua disusul pasangan Ahok-Djarot dengan presentase 28,9 persen. Dan posisi terakhir Anies-Sandi dengan 26,7 persen. Sedangkan yang tidak menjawab sebesar 14,9 persen.

Survei ini dilakukan pada 17-24 November 2016 atau setelah Ahok berstatus sebagai tersangka. Jumlah sampel sebanyak 733 dari 800 yang direncanakan. Metode acak bertingkat dengan margin error 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

 


(SCI)