Gerindra Pertanyakan Alasan Jokowi Pilih Ma'ruf Amin

Nur Azizah    •    Sabtu, 11 Aug 2018 05:32 WIB
pilpres 2019
Gerindra Pertanyakan Alasan Jokowi Pilih Ma'ruf Amin
Calon Presiden Joko Widodo dan calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin. ANT/Hafidz Mubarak.

Jakarta: Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantoro mempertanyakan pilihan Presiden Joko Widodo meminang Ketua MUI Ma'ruf Amin. Ia menduga sosok Ma'ruf hanya sebagai bumper bagi Jokowi.

“Ini menempatkan KH Ma’ruf Amin untuk bumper atau untuk menyelesaikan masalah,” kata Ferry dalam program Prime Talk di Metro TV, Jakarta Barat, Jumat, 10 Agustus 2018.

Pernyataaan itu menyusul rangkaian peristiwa di Pilkada DKI 2017 lalu. Saat itu, Jokowi disebut telah mengkriminalisasi ulama.

“Jokowi kurang aware dan melakukan kriminalisasi ulama. Ini kemudian membentuk sentimen setelah Pilkada DKI. Lalu politik identitas membentuk kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Kendati begitu, koalisi partai Gerindara menghormati keputusan Jokowi untuk menggandeng KH Ma’ruf Amin. “Kami ingin memuliakan KH Ma’ruf Amin, tapi tetap masyarakat harus mendukung Prabowo-Sandiaga,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai pemilihan Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden kubu petahana akan mampu mengunci isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang mungkin sudah dipersiapkan kelompok lawan untuk menyerang Joko Widodo. 

Sejak Pilkada DKI Jakarta 2012, Jokowi kerap dikaitkan sebagai figur yang anti-Islam, pendukung komunis, bahkan tidak anti dengan kriminalisasi ulama. 

"Ini kemungkinan salah satu alasan parpol meminta Ma'ruf jadi pendamping Jokowi. Dia ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), isu SARA dikunci dulu supaya tidak jadi isu," ujarnya.

Qodari menilai pemilihan Ma'ruf secara tidak langsung menjadi jawaban atas tudingan-tudingan berbau SARA yang kerap diterima Jokowi. Ini berbanding terbalik dengan kubu oposisi yang menggaungkan ijtima' ulama sebagai bahan rekomendasi tetapi pada akhirnya memilih figur lain.

"Adanya Kiai Ma'ruf, mudah-mudahan perkembangan atau permainan isu SARA teredam dengan sendirinya. Karena anda mempersoalkan apagi," kata dia.

Meski dalam sejumlah kesempatan Jokowi kerap memberi sinyal bahwa 'pilihan hatinya' jatuh kepada Mahfud MD, Qodari menilai keputusan akhir tidak semata-mata ditentukan oleh Jokowi. Mahfud MD, kata Qodari, boleh unggul dari segi figur negarawan. Namun, mayoritas parpol disinyalir memberi titik tekan pada senioritas yang dimiliki Ma'ruf Amin yang dinilai lebih cocok dipasangkan dengan Jokowi. 


(DRI)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

6 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA