Demokrat Dianggap Lebih Ganas Mencomot Kader Partai Lain

Achmad Zulfikar Fazli    •    Selasa, 11 Sep 2018 19:21 WIB
pilpres 2019
Demokrat Dianggap Lebih Ganas Mencomot Kader Partai Lain
Direktur Program Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) Aria Bima. Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli.

Jakarta: PDI Perjuangan bantah mencomot kader Partai Demokrat untuk mendukung pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Partai berlambang kepala banteng itu menuding Demokrat yang banyak mengambil kader partai lain.

"Dalam soal ini lebih ganas Demokrat itu mengambil (kader) partai-partai lain sebenarnya," kata Ketua DPP PDI Perjuangan Aria Bima di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa, 11 September 2018.

Aria mencontohkan pada saat Gamawan Fauzi menjadi gubernur Sumatera Barat periode 2005-2009. Saat itu, kata dia, PDI Perjuangan yang membiayai kampanye Gamawan hingga terpilih menjadi gubernur. Namun, Demokrat memasukkan Gamawan ke tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2009. 

Hal serupa dilakukan kepada mantan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Demokrat disebut mengambil Mardiyanto meski saat menjadi gubernur yang diusung oleh PDI Perjuangan.

"Demokrat itu kebanyakan bajakan dari partai lain, maksud saya itulah dinamika. Kalau kata bajakan itu diambil oleh Demokrat, kita enggak menyoalkan. Kita menjadi koreksi diri internal pada kader dalam ideologinya," beber dia.

Menurut dia, tindakan Demokrat itu dijadikan bahan koreksi oleh PDI Perjuangan, bukan mencaci maki partai lain. Hasil koreksi itu, kata dia, memunculkan kader yang setia dengan partai pada periode kedua kepemimpinan SBY, seperti Presiden Joko Widodo yang sempat menjabat gubernur DKI, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, hingga Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo.

Dia meminta Demokrat tidak membuat asumsi PDI Perjuangan membajak kadernya. PDI Perjuangan, kata dia, selama ini menyikapi membelotnya sejumlah kader dengan proses kristalisasi gagasan ide di internal partai. Alhasil, selama 10 tahun menjadi oposisi, dia menyebut PDI Perjuangan mampu menjadikan kader-kadernya cukup militan dan bisa melahirkan wali kota menjadi presiden.

"Ini kan satu yang luar biasa yang tidak tertarik ikut SBY yang awalnya dulu banyak yang tertarik," ucap dia.

Baca: Buni Yani Diyakini tak akan Macam-macam di Pilpres

Menurut dia, membelotnya sejumlah kader Demokrat karena mereka merasakan adanya perubahan selama kepemimpinan Jokowi. Pembangunan yang dilakukan era Jokowi tidak hanya di daerah Jawa, tapi juga hingga ke Papua.

Sementara itu, kader Demokrat yang membelot antara lain Gubenur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang M Zainul Majdi, Gubernur Papua Lukas Enembe, serta eks Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar. Mereka beralih ke Jokowi-Ma'ruf disebut karena sudah merasakan dan mengerti betul apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat. 

Demokrat sejatinya mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2018. Namun, kader Demokrat di daerah membelot karena memiliki ikatan dan kesamaan platform mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara dengan Jokowi. 

"Bahwa, kebetulan partai pengusungnya itu tidak mendukung Pak Jokowi ya penyikapan partai harus lebih bijak. Kalau PDI Perjuangan dianggap bajak membajak berkaca dulu dong jangan menempuh air terpercik muka sendiri," pungkas dia.


(OGI)